WALI DALAM PERKAWINAN

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga

Oleh  : Dhoriful Luthfi [1]

PENGERTIAN WALI

Wali adalah orang yang berhak atau berwenang untuk melakukan suatu perbuatan hukum bagi yang diwakilinya untuk kepentingan dan atas nama yang diwakili.[2] Sedangkan wali dalam pernikahan adalah orang yang berhak menikahkan seorang perempuan yang diurusnya (maula) apabila ia (wali) sanggup bertindak sebagai wali. Dan apabila karena suatu hal ia tidak dapat bertindak sebagai wali maka hak kewaliannya berpindah kepada orang lain.

Menurut Syafi’i wali merupakan salah satu dari empat hal yang menetapkan adanya pernikahan yaitu wali, kerelaan yang dinikahkan, kerelaan yang menikahi, dua saksi yang adil, serta yang kelima adalah mahar/ maskawin.[3] Sebagimana Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah sepakat dalam mensyaratkan adanya wali dalam keabsahan pernikahan, dan Hanafiyah berpendapat bahwa pensyaratan wali ini adalah untuk shoghiroh dan kabiroh majnunah sedangkan bagi balighah aqilah baik gadis ataupun janda berhak untuk menikahkan diri mereka selama sepadan / kufu, karena jika tidak sepadan maka wali berhak untuk mem-faskh nikahnya.[4]

Dalam pelaksanaannya, seorang wali bisa menikahkan sendiri atau mewakilkan kepada orang lain, atau barangkali pasrah kepada orang lain untuk memilihkan suami sekaligus menikahkannya sebagaimana kutipan Ibnu Qudamah dalam Al Mughni yang bercerita tentang Ummu Amr yang kemudian dinikahkan dengan Utsman ra. oleh Umar ra.[5]

SYARAT- SYARAT WALI

Syarat- syarat wali ialah merdeka, berakal sehat dan dewasa. Budak, orang gila dan anak kecil tidak bisa menjadi wali karena untuk diri mereka sendiri pun mereka tidak berhak menjadi wali. Dalam hal berakal sehat/ kecerdikan terjadi perbedaan antara jumhur syafi’iyyah yang tidak mensyaratkannya dengan Syafi’i, Malik, Asyhab dan Abu Mush’ab yang berpendapat bahwa kecerdikan (dalam hal maslahah yang meliputi urusan harta, pemilihan suami dan termasuk di dalamnya kesepadanan) menjadi syarat perwalian.[6]

Syarat lain selain ketiga syarat tersebut adalah beragama Islam karena non-muslim tidak boleh menjadi wali bagi muslim. Sebagaimana firman Allah:

`s9ur Ÿ@yèøgs† ª!$# tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ’n?tã tûüÏZÏB÷sçRùQ$# ¸x‹Î6y™ ÇÊÍÊÈ

” Dan Allah tidak akan sekali- kali memberikan jalan kepada orang kafir untuk menguasai orang- orang mukmin”.(QS. An Nisa 141)

Adil bukan merupakan syarat wali, karena kedurhakaan selama tidak melampaui batas kesopanan hingga menjadikan tidak tentramnya maula/ orang yang diurusnya sehingga hak perwaliannya menjadi hilang.[7] Begitu juga fasiq tidak menjadi syarat wali karena kefasikan tidak menghalangi seseorang menjadi wali sebagaimana pendapat sebagian besar fuqaha yang membenarkan perwalian orang Fasiq,[8] walaupun ada juga yang menolak dan intiqal kepada wali ab’ad.[9] Dalam hal ini karena kefasikan tidak memutuskan pertalian darah dan waris maka kami lebih memilih pendapat pertama selama tidak sampai pada kekufuran.

MACAM- MACAM WALI NIKAH

1.       Nasab       :    adalah wali yang memperoleh hak sebagai wali karena adanya pertalian darah. Jumhur sebagaimana Malik dan Syafii mengatakan bahwa wali adalah ahli waris dan diambil dari garis ayah dan bukan dari garis ibu.

2.     Hakim       :    adalah penguasa dari suatu negara atau wilayah  yang berdaulat atau yang mendapatkan mandat dan kuasa untuk mewakilinya.

3.     Muhakam[10] : adalah wali hakim namun dalam keadaan darurat misalnya ketika ada kudeta sehingga tidak ada pemerintahan yang berdaulat sehingga tidak berada di tangan penguasa/ sultan. Demikian juga jika maula tidak berada di negaranya sendiri tanpa seorang wali pun yang menyertai sedang negaranya tidak mempunyai perwakilan di negara tersebut.[11]

Jumhur ulama sebagaimana Malik dan Syafi’i mengatakan bahwa wali adalah ahli waris dan diambil dari garis ayah,[12] walau dalam hal wali mujbir Malik menambahkan anak laki-laki kandung sebelum ayah dan kakek.[13] Sedang mengenai tata urutan wali nasab adalah dari yang hubungan darahnya terdekat ke yang lebih jauh. Wali jauh tidak bisa menjadi wali jika aqrabnya ada kecuali kalau karena suatu hal aqrab tidak dapat bertindak sebagai wali. Namun untuk kasus daniah ( wanita kurang terhormat ) Malikiyyah menambahkan wilayah Ammah dimana salah satu harus bertindak sebagai wali sebagimana fardhu kifayah, dan hal ini tidak berlaku bagi perempuan syarifah (terhormat).[14]

Adapun tertib wali sebagaimana pendapat Syafii adalah sebagai berikut;

1.       Ayah kandung

2.     Kakek (ayah dari ayah)

3.     Saudara laki- laki kandung atau se-ayah[15]

4.     Saudara laki- laki kandung ayah atau se-ayah

5.     Anak laki- laki saudara laki- laki sekandung atau se-ayah

6.     Anak laki- laki dari poin 4

7.     Saudara laki- laki sekandung atau seayah dari dari kakek

8.     Anak dari poin 7

9.     Paman dari kakek

10.  Anak laki- laki dari poin 10

11.   Hakim

WALI MUJBIR

Wali mujbir adalah wali yang mempunyai hak memaksa tanpa memperhatikan pendapat dari maula dan hal ini hanya berlaku bagi anak kecil yang belum tamyiz, orang gila dan orang yang kurang akal. Dalam hal wali mujbir ini agama mengakuinya karena memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan dari  maula. Sedangkan wali yang tidak berhak memaksa (Ghoiru Mujbir) adalah yang selainnya.

Dalam hal hak wali mujbir ini ada di tangan siapa terdapat beberapa pendapat ;

a.      Hanafi                   ;     ashabah/ wali nasab terhadap anak kecil, orang

gila dan orang kurang akal.

b.     Selain Hanafi         ;     Hakim adalah wali mujbir bagi orang gila dan kurang

akal

c.      Malik dan Ahmad    ;     Ayah dan pengampu adalah wali mujbir dari anak

kecil.

d.      Syafii                    ;     Ayah dan kakek adalah wali mujbir dari anak kecil.[16]

Karena pertimbangan kemaslahatan yang subyektif dari kacamata wali adakalanya masih terjadi pemaksaan terhadap anak gadis yang tamyiz dan baligh karena diperbolehkannya hal ini oleh madzhab Syafii dan Hambali.[17] Dan tidak jarang juga masih terjadi penolakan dari anak gadis yang juga didasarkan pada penilaiannya yang subyektif sesaatnya.

Dalam kasus semacam ini ada baiknya kedua belah pihak (perempuan dan wali) beserta keluarga yang lain (cukup sebatas keluarga inti) duduk bersama untuk memperoleh penilaian yang lebih obyektif karena bagaimanapun pernikahan adalah pertalian kuat yang didasari dengan niat ibadah, dan bertujuan mewujudkan kehidupan rumah tangga yang Samara yang tidak hanya mengikat kedua mempelai melainkan juga keluarga mereka, disamping untuk menghindari terjadinya kebencian Allah dikemudian hari sebagaimana diriwayatkan bahwa

” Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”. [18]

Berdasar hal ini tepatlah kiranya jika KHI tidak mengadopsi ijbarul wali ini melainkan mensyaratkan persetujuan kedua calon mempelai sebagaimana tersurat dalam ps. 17 ayat (2). Karena syarat minimal usia catin putri menurut KHI yang 16 tahun dianggap sudah menginjak baligh dan tamyiz walaupun menurut ulama terdahulu ukurannya adalah sebagaimana riwayat Aisyah yang menyatakan “ketika seorang anak perempuan (jariyah) telah menginjak usia 9 tahun, maka ia telah menjadi perempuan (mar’ah)”[19] yang sudah kurang –untuk tidak mengatakan tidak- relevan lagi untuk masa sekarang.

Disamping telah sampai kepada kita riwayat- riwayat yang antara lain;

a.    Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas bahwa “Seorang gadis telah datang kepada Nabi saw. dan mengadu bahwa bapaknya telah mengawinkan dirinya padahal dia sendiri benci, maka Rasululloh saw. menyuruhnya untuk memilih”

( HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)[20]

b.     ” Janda/ duda (Tsayyib) lebih berhak atas dirinya sendiri daripada walinya, dan seorang gadis diajak bermusyawarah ( tusta’mar) dan ijinnya adalah diamnya”.[21]

c.      ” Lajang (Ayyim) lebih berhak atas dirinya sendiri daripada walinya, dan seorang gadis dimintai ijin (tusta’dzan)  atas dirinya  dan ijinnya adalah diamnya”.[22]

d.      Riwayat bahwa seorang gadis mendatangi Aisyah istri Rasulullah dan berkata kepadanya ” Sesungguhnya ayahku ingin menikahkanku dengan kemenakannya agar dengan itu ia meningkatkan kewibawaannya, sedangkan aku sebenarnya tidak menyukainya” Aisyah berkata padanya ” Duduklah sampai Rasulullah datang”, maka saat beliau datang Aisyah menyampaikan keluhan gadis tersebut. Beliau (Rasul) segera mengutus orang untuk memanggil ayah gadis tersebut setelah itu menyerahkan urusan tersebut kepada si gadis. Tetapi kemudian gadis itu berkata ” Ya Rasulullah, kini aku menyetujui apa yang dikehendaki oleh ayahku, tetapi aku ingin menyampaikan kepada kaum perempuan bahwa ayah- ayah mereka tidak memiliki hak apapun dalam urusan seperti ini” [23]

PINDAHNYA PERWALIAN

Hak perwalian karena suatu hal bisa berpindah kepada wali yang lain baik dari nasab (aqrab) ke nasab (sederajat atau ab’ad), maupun dari nasab ke hakim. Dalam hal ini Maliki berpendapat bahwa jika wali dekat tidak ada, maka perwaliannya pindah ke wali jauh, sedangkan Syafi’i berpendapat bahwa hak perwalian pindah kepada hakim. Perbedaan pendapat ini bersumber pada pembedaan mereka atas apakah tidak adanya wali tersebut sama dengan kematian yang sebelumnya telah disepakati keduanya bahwa jika wali dekat mati perwaliannya pindah ke wali jauh.

Perpindahan wali ini disebabkan antara lain karena ;

a. Ghoibnya wali aqrab

Dalam hal wali aqrab gaib, tidak ada di tempat dan atau tidak diketahui keberadaannya Hanafi berpendapat bahwa perwalian pindah kepada urutan selanjutnya  (wali ab’ad) dan apabila suatu saat aqrab datang, dia tidak dapat membatalkan pernikahan tersebut karena kegaibannya sama dengan ketiadaannya demikian juga Malik. Sedangkan Syafii  berpendapat bahwa perwaliannya pindah ke hakim.[24] Dan jika wali aqrab di penjara dan tidak memungkinkan untuk menghadirkannya walaupun jaraknya dekat maka ia dianggap jauh. Demikian juga jika wali dekat tidak diketahui alamatnya walaupun dekat letak tempat tinggalnya.[25]

Dalam masalah ghoibnya wali ini kami cenderung mengikuti kedua pendapat tersebut dengan syarat- syarat tertentu yaitu bahwa perwalian bisa pindah kepada wali ab’ad sebagaimana pendapat Malik dan Hanafi jika ada persangkaan yang kuat dari wali- wali selain wali aqrab bahwa wali aqrab akan rela dan tidak berkeberatan. Sedangkan jika persangkaan itu tidak ada atau jika ada kehawatiran tidak relanya wali aqrab, maka perwaliannya pidah ke hakim karena adanya kekhawatiran terjadinya sengketa antar wali.

b. Perselisihan wali yang kedudukannya sama

Dalam hal terjadinya perselisihan antar wali (selain wali mujbir) dalam satu thabaqat maka perwaliannya langsung pindah ke hakim. Hal itu tidak lain disebabkan karena fungsi hakim adalah sebagai penengah yang tidak bisa digugat oleh wali- wali yang sedang berselisih disamping posisinya sebagai wali dari perempuan yang tidak punya wali nasab.

c. Walinya Adhal

Dalam hal adhalnya wali, maka perwalian pindah ke tangan hakim yang dalam prakteknya di Indonesia melalui prosedur  penetapan adhalnya wali dari Pengadilan Agama untuk menentukan dibenarkan tidaknya alasan penolakan dari wali karena jika alasannya benar dan dibenarkan oleh pengadilan maka perwaliannya tidak berpindah kepada orang lain karena ia dianggap tidak adhal/ menghalangi.[26]

Dalam masalah ini belum kami temukan tentang bagaimana hukum dari wali yang adhal mengenai boleh atau tidaknya,

(#qßsÅ3Rr&ur 4‘yJ»tƒF{$# óOä3ZÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$#ur ô`ÏB ö/ä.ϊ$t6Ïã öNà6ͬ!$tBÎ)ur 4 bÎ) (#qçRqä3tƒ uä!#ts)èù ãNÎgÏYøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ª!$#ur ììřºur ÒOŠÎ=tæ ÇÌËÈ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

tapi dengan melihat dhohir ayat ini bisa disimpulkan bahwa hukum asal dari adhal-nya wali adalah dilarang.

WALI MENIKAHI MAULA

Sebagaimana Malik, Sayyid Sabiq berpaendapat bahwa selama tidak berhalangan untuk menikahi maula, maka wali boleh menikahi maulanya tanpa harus meminta persetujuan wali lainnya.[27] Malik mendasarkan pendapatnya pada dua riwayat muttafaq ‘alaih tentang pernikahan Nabi dengan Ummu Salamah dan Shofiyyah. Sedang Syafi’i  melarangnya dengan mempersamakan wali dengan hakim dan saksi yang tidak bisa memutuskan perkara untuk diri mereka sendiri. Dan terhadap dua riwayat diatas Syafi’i  menganggapnya sebagi kekhususan Rasul sampai terdapat dalil yang menunjukkan keumumannya.[28]

Dalam hal ini penulis lebih cenderung memilih pendapat pertama karena dalam pernikahan ini wali pun harus meminta persetujuan dari si-perempuan di samping tidak adanya nash yang sacara lahir melarangnya.

AQAD OLEH DUA ORANG WALI

Jika hal ini sampai terjadi dan dapat diketahui akad mana yang lebih dulu, fuqaha sepakat pada keabsahan akad yang pertama  selama belum terjadi persetubuhan dengan yang kedua. Dan jika telah terjadi,   Syafi’i dan Ibn Abdil Hakam berpendapat bahwa ia tetap menjadi istri lelaki pertama, sedangkan Malik dan Ibn Qasim berpendapat sebaliknya.

Disamping dua pendapat ini ada juga pendapat yang menyatakan istri harus memilih salah satunya sebagaimana diriwayatkan Umar bin Abdul Azis.[29] Dan pendapat terkuat menurut hemat kami adalah pendapat Syafi’i dan Ibn Abdil Hakam yang dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud dan Ahmad “Wanita mana yang dinikahkan oleh dua orang wali, maka ia adalah bagi wali yang terdahulu”.

PERWALIAN ANAK DILUAR NIKAH

Madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Malikiy, Syafi’i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki, dalam arti dia itu tidak memiliki bapak, meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang mena-burkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. Pengakuan ini tidak dianggap, karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. Di dalam hal ini, sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami. Jadi anak itu tidak berbapak.[30]Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan).” (HR: Al-Bukhari dan Muslim)

Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya, keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasab-kan kepada pemilik firasy. Namun karena persetubuhan terjadi bukan dengan suami (yang sah sebagai pemilik firasy) maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya.

Bila wanita yang dizinahi itu dinikahi atau dinikahi sewaktu hamil, kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir, maka bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah, baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah, maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa iddah di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa iddah, maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa iddah itu batal dengan ijma para ulama, berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak.[31]

Hal serupa dinyatakan Ibnu Taimiyyah, barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah), maka nasab (anak) diikutkan kepadanya, dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui, meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan Rasul-Nya, dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram.[32] Di samping telah disebutkan oleh Al-Qudamah dan Ibnu Taimiyyah tersebut, golongan Syafi’iyyah mensyaratkan bahwa anak tersebut lahir selang enam bulan dari akad nikah.

Secara pribadi, dalam hal ini penulis lebih cenderung memilih berwali hakim jika diketahui atau ada pengakuan bahwa pernikahan terjadi ketika perempuan dalam keadaan hamil terlepas dari berapa lama ia berada dalam kandungan. Karena bagaimanapun pembuahan yang terjadi adalah menyalahi aturan Allah sedang enam bulan sebagaimana kita ketahui merupakan interval proses penciptaan manusia dari sperma+ovum menjadi jasad lengkap yang bernyawa sehingga ada kemungkinan untuk bisa bertahan hidup. Sehingga pemahaman penulis atas enam bulan menurut Syafi’i ini adalah dalam kasus bayi prematur dan bukan dalam kasus Married By Accident.[33]

NIKAH TANPA WALI

Dalam hal ini terdapat beberapa riwayat dari Umar ra. yang pada dasarnya melarang pernikahan tanpa wali yang antara lain;

Diriwatkan dari Baihaqi, Daruquthni dan Syafii dari Ikrimah, ia berkata ” ditengah jalan aku bertemu dengan khalifah, diantaranya ada seorang janda yang menyerahkan seluruh urusannya kepada seorang laki- laki yang bukan mahramnya, lalu ia menikahkannya. Setelah berita itu sampai kepada Umar RA. kemudian ia merajam orang yang menikahi dan yang menikahkannya dan membatalkan perkawinannya”.

Diriwayatkan dari Daruqutni dari Said Bin Musayyab, ia mengatakan bahwa Umar pernah berkata ” tidak boleh menikahkan perempuan kecuali dengan izin walinya, atau orang yang mempunyai wewenang dalam keluarganya, atau penguasa (sultan)”

Diriwayatkan Baihaqi dari Umar, beliau berkata ” perempuan siapapun yang tidak dinikahkan oleh walinya atau penguasa, maka nikahnya batal”.[34]

Pokok pembahasan dari masalah ini adalah perbedaan pendapat tentang pensyaratan wali dalam keabsahan pernikahan.

ü      Tidak boleh/ Mensyaratkan adanya wali, sebagian penganut Malik (Malikiyah Baghdad) dan Syafi’i berpendapat bahwa wali adalah syarat sah nikah.

ü      Boleh/ tidak mensyaratkan, Hanafi, Sa’by, dan Zuhri membolehkan perempuan menikahkan dirinya sendiri dengan laki-laki yang se kufu, demikian juga Mahmud Syaltut.

ü      Tergantung, Dawud membedakan janda dan gadis dimana ia mensyaratkan wali untuk gadis dan tidak untuk janda.[35]

ü      Boleh tapi dengan restunya, Malik dalam pendapat lain sebagimana diriwayatkan Ibnu Qasim bahwa Malik berpendapat adanya hak mawaris antara suami istri yang menikah tanpa wali serta menganjurkan agar seorang janda mengajukan walinya untuk menikahkannya. Dari sini disimpulkan bahwa bagi Malik wali merupakan syarat kelengkapan perkawinan dan bukan syarat sah.[36]

Sebab perbedaan pendapat ini tidak lain karena tidak adanya nash yang secara lahir mensyaratkan wali dalam pernikahan terlebih lagi yang menegaskannya, melainkan hanya sebatas nash yang mengandung kemungkinan yang demikian. Demikian halnya nash yang tidak mensyaratkan wali dalam pernikahan.

Adapun penjelasannya sebagai berikut;

#sŒÎ)ur ãLäêø)¯=sÛ uä!$|¡ÏiY9$# z`øón=t6sù £`ßgn=y_r& Ÿxsù £`èdqè=àÒ÷ès? br& z`ósÅ3Ztƒ £`ßgy_ºurø—r& #sŒÎ) (#öq|ʺts? NæhuZ÷t/ Å$rã÷èpRùQ$$Î/ 3 y7Ï9ºsŒ àátãqム¾ÏmÎ/ `tB tb%x. öNä3ZÏB ß`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 3 ö/ä3Ï9ºsŒ 4’s1ø—r& ö/ä3s9 ãygôÛr&ur 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ ÷LäêRr&ur Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇËÌËÈ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya [kawin lagi dengan bekas suami atau dengan laki-laki yang lain], apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.( Baqarah: 232 )

Ÿwur (#qßsÅ3Zs? ÏM»x.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym £`ÏB÷sム4 ×ptBV{ur îpoYÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 7px.Ύô³•B öqs9ur öNä3÷Gt6yfôãr& 3 Ÿwur (#qßsÅ3Zè? tûüÏ.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym (#qãZÏB÷sム4 Ӊö7yès9ur í`ÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 78Ύô³•B öqs9ur öNä3t6yfôãr& 3 y7Í´¯»s9′ré& tbqããô‰tƒ ’n<Î) ͑$¨Z9$# ( ª!$#ur (#þqããô‰tƒ ’n<Î) Ïp¨Yyfø9$# ÍotÏÿøóyJø9$#ur ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ ( ßûÎiüt7ãƒur ¾ÏmÏG»tƒ#uä Ĩ$¨Y=Ï9 öNßg¯=yès9 tbr㍩.x‹tGtƒ ÇËËÊÈ

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. .( Baqarah: 221 )

Golongan yang mensyaratkan wali dalam pernikahan berpendapat bahwa kedua ayat ini ditujukan untuk para wali, jika mereka tidak mempunyai hak dalam perwalian tentu tidak akan dilarang untuk menghalanginya. Disamping dua ayat diatas mereka juga mendasarkan pendapatnya pada :

Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi yang  bersumber dari Az-Zuhri[37] dari Urwah dari Aisyah yang artinya: ” Siapapun wanita yang kawin tanpa izin walinya, maka nikahnya batal (diucapkan tiga kali). Jika suaminya telah menggaulinya, maka maskawinnya adalah untuknya (wanita) karena apa yang telah diperoleh darinya. Apabila mereka bertengkar, maka penguasa menjadi wali bagi orang yang tidak punya wali”.( HR. Khamsah illa Nasa’i )[38]

Riwayat Ibnu Majah Daruquthny dan Baihaqy dari Abu Hurairah bahwa Rasul bersabda “Wanita tidak dapat mengawinkan wanita lain, dan ia tidak dapat mengawinkan dirinya, maka sesungguhnya wanita pezina-lah yang mengawinkan dirinya”.

Sedangkan secara logika mereka menyatakan bahwa nikah mempunyai maksud yang bermacam- macam diantaranya adalah ikatan antar keluarga sehingga karena kelemahan tabiat wanita dalam menentukan pilihan yang seringkali melupakan sisi kemaslahatan, [39] maka wanita tidak diperbolehkan untuk mencampuri akad nikah secara langsung.

Adapun golongan yang tidak mensyaratkan mendasarkan pendapatnya pada ;

tûïÏ%©!$#ur tböq©ùuqtFムöNä3ZÏB tbrâ‘x‹tƒur %[`ºurø—r& z`óÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr'Î/ spyèt/ö‘r& 9åkô­r& #ZŽô³tãur ( #sŒÎ*sù z`øón=t/ £`ßgn=y_r& Ÿxsù yy$oYã_ ö/ä3øŠn=tæ $yJŠÏù z`ù=yèsù þ’Îû £`ÎgÅ¡àÿRr& Å$râ÷êyJø9$$Î/ 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î6yz ÇËÌÍÈ

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.( Baqarah;234 )

Disamping ayat ini mereka juga menggunakan ayat- ayat lain yang menyandarkan perkawinan kepada wanita, misalnya ;

£Ÿxsù £`èdqè=àÒ÷ès? br& z`ósÅ3Ztƒ £`ßgy_ºurø—r& #sŒÎ) (#öq|ʺts? NæhuZ÷t/ Å$rã÷èpRùQ$$Î/

Maka janganlah kamu menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya [kawin lagi dengan bekas suami atau dengan laki-laki yang lain], apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.

( Baqarah: 232 )

bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù ‘@ÏtrB ¼ã&s! .`ÏB ߉÷èt/ 4Ó®Lym yxÅ3Ys? %¹`÷ry— ¼çnuŽöxî 3 bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù yy$uZã_ !$yJÍköŽn=tæ br& !$yèy_#uŽtItƒ bÎ) !$¨Zsß br& $yJŠÉ)ムyŠr߉ãn «!$# 3 y7ù=Ï?ur ߊr߉ãn «!$# $pkß]ÍhŠu;ム5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôètƒ ÇËÌÉÈ

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui. ( Baqarah: 232 )

Sedangkan dari hadits mereka antara lain mendasarkan pendapatnya pada ;

” Janda/ duda (Tsayyib) lebih berhak atas dirinya sendiri daripada walinya, dan seorang gadis diajak bermusyawarah ( tusta’mar) dan ijinnya adalah diamnya”.[40]

Jalan istimbatnya adalah bahwa dalam hadits ini telah menjadikan hak kepada wanita (janda) dan menafikan urusan orang lain mengenai yang berhubungan dengan nikahnya mencakup pemilihan dan akadnya. Adapun untuk perawan karena dianggap malu menegaskan kerelaannya lebih- lebih melaksanakan akadnya sendiri, maka syara’ mencukupkan dengan sesuatu yang menunjukkan kerelaannya sebagai keringanan dan hal ini tidak berarti syara’ mencabut haknya untuk mencampuri langsung akadnya karena pada hakekatnya pembedaan tsayyib dan bikr ini terletak pada baligh dan aqil-nya.[41]

IHTISAR

1.       Wali nikah adalah orang yang berhak dan atau berwenang untuk melakukan suatu perbuatan hukum bagi yang diwakilinya untuk kepentingan dan atas nama yang diwakilinya dalam hal pernikahan.

2.     Wali nikah harus merdeka, berakal sehat (tidak bodoh) dan dewasa, karena tidak mungkin seseorang yang tidak berhak melakukan tindakan hukum sendiri bisa dan diperkenankan mewakili orang lain.

3.     Wali nikah terbagi menjadi nasab, hakim dan muhakam.

4.     Perwalian karena satu dan lain hal bisa berpindah kepada wali yang lain.

5.     Selama tidak ada halangan syar’i, wali boleh menikahi maula.

6.     Apabila dua orang wali menikahkan seorang perempuan dengan dua orang laki-laki, maka yang pertama dilaksanakanlah yang dianggap sah.

7.     Jumhur ulama termasuk Syafi’i, Malikiyah baghdady serta KHI mengharuskan adanya wali dalam keabsahan pernikahan. Sedangkan menurut penulis pendapat yang terkuat adalah bahwa yang menjadi syarat sah adalah ijin atau kerelaan wali, sedangkan wali hanya merupakan syarat kesempurnaan saja sebagaimana pendapat Malik.

8.     Sebagaimana jual beli pernikahan adalah ibadah muamalah murni, yang karena ketulusan niat yang mendasari serta kerelaan mengabdi pada keluarga dan pasangan-lah yang membedakan nilainya dihadapan Allah hingga mengurangi 50% taklif di dunia.

EPILOG

o

9e@ä3Ï9ur îpygô_Ír uqèd $pkŽÏj9uqãB ( (#qà)Î7tFó™$$sù ÏNºuŽöy‚ø9$# 4 tûøïr& $tB (#qçRqä3s? ÏNù’tƒ ãNä3Î/ ª!$# $·èŠÏJy_ 4 ¨bÎ) ©!$# 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇÊÍÑÈ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

o

$yJÎ6sù 7pyJômu‘ z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xá‹Î=xî É=ù=s)ø9$# (#q‘ÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó™$#ur öNçlm; öNèdö‘Ír$x©ur ’Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBz•tã ö@©.uqtGsù ’n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya]. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

o       Kecuali Rasulullah, pendapat seseorang boleh diikuti atau ditinggalkan karena hanya beliaulah yang terpelihara dari kesalahan.[42]

o       Diperbolehkan taqlid selama belum mampu, tetapi harus sekuat tenaga mempelajari dalil- dalil imam yang diikutinya serta tetap bersedia menerima kebenaran dari orang lain.[43] Langkah yang bisa ditempuh antara lain dengan melakukan kajian perbandingan madzhab atau dengan mengkaji pemikiran fikih dengan paradigma ilmu tafsir yang antara lain dengan kajian hemeneutik[44] untuk bisa menggali lebih dalam obyektifitas pemikiran dari seorang fakih yang tidak lepas dari pengaruh ruang dan waktu guna mengurangi bias subyektifitas penulis (misalnya paternalisme, arabisme dan quraisyisme) atas ajaran Islam. Dengan kata lain dimungkinkan akan tercipta Qaul Mutakhir Syafi’i, jika beliau hidup pada masa ini.

o       Karena kapasitas Qadhi di negeri ini ada di tangan lembaga peradilan serta karena sebagian idealisme telah tergadai dengan “jatah bulanan”, cukuplah memposisikan diri sebagai penjaga dan pengawal hukum positif yang ada sebagai kompensasi dari jatah tersebut.

o       Fa lHaqq wa lAjr Min ‘ind Illaah al-‘Aliim al-Hakiim…


[1] Suplemen Disampaikan Pada Pertemuan Bulanan Kelompok Kerja Penghulu Kandepag Kabupaten Rembang  Tanggal 13 Agustus 2009, penulis adalah Penghulu Pertama pada KUA Kecamatan Sarang 1

[2] Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jkt: Rajawali Press, 1997, h. 258; lihat Pasal 1 Kompilasi Hukum Islam huruf h

[3] Syafii, Al Umm, j.5, h.180 (dasar rujukan Maktabah Syamilah v. 2.01)

[4] Abdurrahman Al-Jazairi, Kitab Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, j. iv, h. 51

[5] M. Abdul Aziz al Hallawi, Fatwa dan Ijtihad Umar Bin Khaththab, Sby: Risalah Gusti, cet. 2, 2003, h. 161

[6] Syafii, ibid : Ibn Rusyd al Hafid, Bidayatul Mujtahid, Dar Ihya Kutubil Arabiyyah, j.2, h. 9.

[7] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah terj. M Tholib j.7, Bandung: Al-Maarif, Cet.9. 1994, h. 21-22

[8] Ibn Taimiyah, Majmu’ Fatawa, j.8, h.265 (dasar rujukan Maktabah Syamilah v. 2.01); Ibn Rusyd al Hafid, Bidayatul Mujtahid, Dar Ihya Kutubil Arabiyyah, j.2, h. 9.

[9] Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatul Mustarsyidin, Beirut: Darul kutub ilmiyyah, h. 251

[10] Terma wali Muhakam ini belum kami temukan dalam literatur fikih yang ada selain masalah perempuan yang tidak mempunyai wali nasab dan tidak juga bisa pindah ke wali hakim.

[11] Al Qurthubi dalam menafsirkan والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعضberkata “Jika perempuan tinggal di tempat yang tidak ada sultan serta tidak mempunyai wali, maka penyelesaiannya dapat ia serahkan kepada tetangga yang ia percayai untuk mengakad/ menikahkannya” Lihat Al Qurthubi, Al Jaami’ li Ahkam Al Qur’an, J.3, h. 76

[12] Rahmad Hakim, Hukum Perkawinan Islam, Bandung: Pustaka Setia, cet. 1, 2000, h.

[13] Abdurrahman Al-Jazairi, Kitab Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, j. iv, h. 27

[14] ibid.

[15] Dalam hal wali dalam satu tingkatan ini, yang sekandung didahulukan dari yang seayah; Lihat Khosiyah Bijrimi ‘alal Khotib Kitab Nikah Bab Wali dan untuk lebih jelasnya lihat Syafi’i, Al-Umm, juz 5 hal. 13.

[16] Sayyid Sabiq, Opcit, h.21- 22

[17] Muhammad Al Ghazali, As Sunnah an Nabawy Baina Ahl Fiqh wa ahl Hadits, Cairo: Dar Syuruq, cet. 10, h. 42

[18] “Demikianlah mereka bukan lagi dua,melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah,tidak boleh diceraikan manusia”(Matius:19;06 )

[19] Dikutip Turmudzi dalam menjelaskan hadits no. 1027

[20] Rahmad Hakim, Op.Cit, h. 60; Sayyid Sabiq, Opcit, h.25- 26

[21] Muslim 2546; Turmudzi, Nikah, 1026; Nasai, Nikah 3208, 3209, 3210, 3211, 3212; Abu Dawud, Nikah, 1795, 1796; Ibnu Majah, Nikah 1860; Ahmad, Musnad Bani Hasyim, 1790, 2055, 2351, 2924, 3053, 3172, 3246; Malik, Nikah, 967; Darimi, Nikah, 2092, 2093, 2094.

[22] Turmudzi, Nikah, 1026; Muslim, Nikah, 2545, 2546; Nasai, Nikah, 3208- 3212; Abu Dawud, Nikah, 1795, 1796; Ibnu Majah, Nikah, 1860; Ahmad, Musnad Bani Hasyim, 1790, 2055, 2247, 2351, 2924, 3053, 3172, 3246; Malik, Nikah, 967; Darimi, Nikah, 2092-2094

[23] Muhammad Al Ghazali, Loccit.

[24] Rahmad Hakim, Op.Cit, h. 65; Sayyid Sabiq, Loccit.

[25] Sayyid Sabiq, Op.Cit, h.26

[26] Sayyid Sabiq, Op.Cit, h.28

[27] Ibid, h. 23

[28] Ibn Rusyd al Hafid, Op.Cit, j.2, h.

[29] Ibid, h.

[30] Taisir Fiqh 2/828

[31] Al-Mughny 6/455

[32] Taudlihul Ahkam 5/104

[33] Karena tersohornya Syafi’i sebagai mujtahid empiris yang senantiasa melakukan survei lapangan, pemahaman seperti ini timbul.

[34] M. Abdul Aziz al Hallawi, Loc.Cit.

[35] Pendapat ini merupakan pendapat dhahir nash yang bisa kita lihat kelemahannya dari penjelasan Hanafiyyah atas tsayyib dan bikr.

[36] Ibn Rusyd al Hafid, Op.Cit, j.2, h.

[37] Beliau adalah ulama hadits terkemuka yang murid-muridnya menjadi perawi utama dari Bukhori dan Muslim. Bukhori meriwayatkan dari murid tingkat pertama dan sedikit dari tingkat kedua, sedang Muslim dari tingkat kedua dan sedikit dari tingkat ketiga. M.M. Abu Suhbah, Fi Rihab as-Sunnah al-Kutub as-Shihah as-Sittah, terj. Kutubus Sittah, Pustaka Progressif, h. 48-50

[38] Ibn Lahiah dan Hajjaj dhoif disamping pada sanad yang lain Ibn Juraij menanyakannya pada Az-Zuhri dan beliau memungkiri bahwa hadits ini berasal darinya dan mendhoifkannya sebagaimana penjelasan Turmudzi dalam sunannya, karenanya hadits ini dianggap munqathi oleh Mahmud Syaltut disamping telah dinukil Thahawi dalam Mani’ al-Atsaar dan Ibnu Hajar dalam ad-Diraayah, lihat Mahmud Syaltut, Op.Cit.

[39] terlepas dari subyektifitas ataupun bias paternalisme arab, penilaian terhadap wanita yang seperti ini telah lazim dikalangan kaum muslimin selama beberapa generasi hingga sekarang.

[40] Muslim 2546; Turmudzi, Nikah, 1026; Nasai, Nikah 3208, 3209, 3210, 3211, 3212; Abu Dawud, Nikah, 1795, 1796; Ibnu Majah, Nikah 1860; Ahmad, Musnad Bani Hasyim, 1790, 2055, 2351, 2924, 3053, 3172, 3246; Malik, Nikah, 967; Darimi, Nikah, 2092, 2093, 2094.

[41] Lihat hadits-hadits semakna yang telah kami sebutkan di atas dalam sub-Mujbirnya wali, lihat juga: Mahmud Syaltut dan Ali As-Sayis, Perbandingan Madzhab Dalam Masalah Fikih, Bandung:Al-Ma’arif, 1973, h.114-131.

[42] Taushiyah ke-6 dari Ushul ‘Isyrin Hassan al-Banna

[43] Taushiyah ke-7

[44] Dalam kajian ini teks terbagi menjadi tiga dimensi yaitu ; dunia teks itu sendiri, dunia penulis yang meliputi paradigma pemikiran, tujuan serta kondisi sosial budaya dan dunia pembaca.

Leave a Comment more...

PENCAPAIAN SASARAN

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Haji, Hisab Rukyat, Kemasjidan, Konsultasi, LPTQ, P2A, Pelayanan, Pernikahan dan Keluarga

PENGUKURAN PENCAPAIAN SASARAN
KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN KRAGAN KOTA REMBANG
TAHUN 2010

Satuan Organisasi / Kerja : KUA KECAMATAN KRAGAN
SASARAN Indikator Sasaran Rencana tingkat capaian (target) Realisasi Persentase pencapaian rencana tingkat capaian (target)
KETERANGAN
1 2 3 4 5 6

1. Mengadakan peningkatan sistem administrasi, dokumentasi dan pelayanan publik.
Keluaran (Output):
Tewujudnya sistem administrasi, dokumentasi dan pelayanan publik yang baik dan akuntabel.
Hasil (Outcomes):
Kualitas sistem administrasi, dokumentasi dan pelayanan publik meningkat.

40 %

30 %
40 %

27 %
100 %

90 %
2. Meningkatkan kualitas SDM dan pelayanan dalam pencatatan Nikah dan Rujuk Keluaran (Output):
Terwujudnya kualitas SDM dan pelayanan, dalam pencatatan Nikah dan Rujuk.
Hasil (Outcomes):
Kualitas SDM dan pelayanan Nikah dan Rujuk.

30 %

30 %
30 %

27 %
100 %

90 %
3. Meningkatkan pembinaan dan kualitas keluarga sakinah sehingga terwujud kemandirian keluarga.
Keluaran (Output):
Terwujudnya pembinaan dan keluarga sakinah yang mandiri
Hasil (Outcomes):
Kualitas pembinaan dan keluarga sakinah meningkat.

20 %

30 %
18 %

25 %
90 %

83,33 %
4. Meningkatkan pembinaan sistem pengelolaan masjid, zakat, wakaf, baitul maal dan ibsos yang profesional dan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Keluaran (Output):
Terwujudnya pembinaan pengelolaan masjid, zakat, wakaf, baitul maal dan ibsos yang profesional dan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Hasil (Outcomes):
Kualitas pembinaan pengelolaan masjid, zakat, wakaf, baitul maal dan ibsos yang profesional dan produktif semakin meningkat sehingga tercapai kesejahteraan umat.

20 %

20 %

18 %

18 %

90 %

90 %
5. Mewujudkan pemahaman masyarakat dalam bidang pangan halal dan kehidupan umat beragama. Keluaran (Output):
Terciptanya pemahaman masyarakat dalam bidang pangan halal dan kehidupan umat beragama.
Hasil (Outcomes):
Kualitas pemahaman masyarakat dalam bidang pangan halal dan kehidupan umat beragama meningkat.

20 %

20 %
18 %

18 %
90 %

90 %
6. Mewujudkan pelayanan haji yang memuaskan dan berkualitas sehingga terwujud jamaah haji yang mandiri.

Keluaran (Output):
Tercapainya pelayanan haji yang memuaskan dan berkualitas sehingga terwujud jamaah haji yang mandiri.
Hasil (Outcomes):
Kualitas pelayanan haji semakin meningkat

30 %

30 %

27 %

27 %

90 %

90 %

Rembang, 31 Desember 2010
KEPALA,

Drs. H. ZUHRI
NIP. 196511291994031001

Leave a Comment more...

PROGRAM SASARAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PERENCANAAN KEGIATAN (RENCANA KERJA)TAHUN 2011

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Haji, Hisab Rukyat, Kemasjidan, Konsultasi, LPTQ, P2A, Pelayanan, Pernikahan dan Keluarga

PROGRAM SASARAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI
PERENCANAAN KEGIATAN (RENCANA KERJA)TAHUN 2011

SATUAN ORGANISASI : KUA KEC. kragan
NO PROGRAM SASARAN KEBIJAKAN RKP 2011 PELAK-SANA
KEGIATAN POKOK STRATEGI

  1. Pembenahan Fisik KUA Seluruh bangunan yang berada dalam lingkup KUA Rehab bagian-Bagian  kantor yang mendesak 1. Mengganti kain gorden jendela yang rusak Memperbaiki dan menambah bagian yang penting untuk keamanan dan kenyamanan kantor dengan menggunakan anggaran perbaikan gedung/kantor dari Alokasi DIPA KUA
  • Perbaikan Kamar Mandi
  • Perbaikan Kusen, Pintu dan Jendela dan pemasangan teralis untuk keamanan kantor
  • Pemasangan teralis besi pada jendela
  • Pembangunan Pagar Kantor
  • Perbaikan Aula KUA
  • Pembangunan Tugu Arah Kiblat Kecamatan
  • Penataan Taman Kantor

2. Perbaikan dan Penambahan sarana kerja Semua sarana kerja kantor, seperti komputer, meja, kursi dan lemari Melakukan perbaikan pada sarana kerja yang masih bisa diperbaiki dan menambah sarana yang kurang 1. Meningkatkan daya kerja komputer dan printer untuk pelayanan dan pelaporan Melengkapi sarana kerja sesuai dengan kebutuhan perkerjaan untuk kelancaran dalam melayani masyarakat KUA

  • Pengadaan printer NA untuk efektifitas dan pelayanan dalam penulisan NA
  • Penambahan Daya Listrik 1300 W
  • Pemasangan Instalasi PDAM
  • Menambah/mengganti meja, kursi dan lemari sesuai dengan kebutuhan kerja dan pelayanan

3. Penataan seluruh Arsip KUA

  • Menyiapkan Lokal Ruangan untuk tempat arsip
  • Menata ruangan khusus untuk arsip
  • Menambah jumlah lemari arsip Mengatur tata letak ruang yang ada dan dibagi untuk ruang kerja yang lain KUA

4. Pelaksanaan Kerja di Bidang: Staff KUA Melaksanakan seluruh bidang kerja sesuai dengan prinsip Manajemen yaitu Planning, Actuating, Organizing, and Controlling (POAC)

  • Membuat Time Schedule pelaksanaan kerja masing-masing bidang 1. Membuat Time Schedule dan standard waktu untuk pengukuran pencapaian keberhasilan pelaksanaan kerja bidang KUA

5. Pengadministrasian Tata Usaha dan Surat Menyurat و Input data nikah menggunakan program SIMKAH

6. Pengadministrasian Keuangan 3. Membuat input data base Pelaksaan Nikah Rujuk dan pencatatan Talak Cerai 2. Melibatkan sponshorship untuk penyelenggaraan kegiatan KUA
3. Pengadministrasian NR 4. Pengukuran dan Pemasangan Tanda Arah Kiblat bagi Maqam lokasi baru 3. Meningkatkan sosialisasi program pada masyarakat melalui peningkatan kerjasama dengan dinas instansi terkait
4. Pengadministrasian Zakat Wakaf 5. Pengukuran Arah Kiblat Bagi Perumahan, Kantor dinas Instansi dan Tempat Ibadah baru
5. Pengadministrasian Haji 6. Pendataan, Sosialisasi Produk dan Label Halal serta pelatihan penyembelihan halal
6. Pengadministrasian Keluarga Sakinah 7. Pemberian Informasi Haji
7. Pengadministrasian Kemasjidan 8. Penyelenggaraan Manasik haji
8. Pengadministrasian Ibsos 9. Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Wakaf
9. Pengadministrasian Kependidikan Islam 10. Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Zakat
10. Pengadministrasian Produk Halal 11. Pelayanan bantuan penghitungan Zakat bagi Masyakarat dan perusahaan

NO PROGRAM SASARAN KEBIJAKAN RKP 2011 PELAK-SANA
KEGIATAN POKOK STRATEGI
1 2 3 4 5 6 7
4 Pelaksanaan Kerja di Bidang: 11. Pengadministrasian BHR Melaksanakan seluruh bidang kerja sesuai dengan prinsip Manajemen yaitu Planning, Actuating, Organizing, and Controlling (POAC) 12. Pelayanan Konseling Nikah 1. Membuat Time Schedule dan standard waktu untuk pengukuran pencapaian keberhasilan pelaksanaan kerja bidang KUA
12. Pengadministrasian Badan Semi Resmi 13. Sosialisasi refungsionalisasi dan pemberdayaan perpustakaan masjid
13. Pengadministrasian Lintas Sektoral 14. Penyelenggaraan nikah massal
15. Peningkatan Pembinaan Majelis Ta’lim
16. Peningkatan kegiatan pemberdayaan desa binaan LP2A di Karangsekar 2. Melibatkan sponshorship untuk penyelenggaraan kegiatan KUA 3. Meningkatkan sosialisasi program pada masyarakat melalui peningkatan kerjasama dengan dinas instansi terkait
17. Peningkatan kegiatan pemberdayaan desa binaan Keluarga Sakinah di Tunggulsari
18. Pengajuan ijin operasional TPQ di wilayah Kec. kragan
19. Penyelenggaraan MTQ Tk. Kec. kragan
20. Pengiriman kafilah MTQ Tk. Kab. Rembang
21. Pemberian Materi ceramah Keagamaan bagi pegawai di lingkunngan Kecamatan kragan
22. Pembagian Jadwal Shalat 1 Tahun
23. Pembentukan Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffadz (JQH)

5 Pembinaan SDM KUA Staff KUA Meningkatkan kualitas SDM KUA 1. Mengadakan pembinaan secara rutin terhadap tugas pokok KUA Menuju pelayanan prima Membagi tugas kepada masing-masing staff secara proporsional KUA
2. Mengirimkan Kepala KUA, Penghulu dan Staff KUA untuk mengikuti diklat, seminar, pelatihan peningkatan kualitas
3. Pelatihan peningkatan keahlian pengoperasian komputer bagi staff KUA

6 Pembinaan Penghulu Penghulu Meningkatkan kualitas dan profesionalitas penghulu 1. Mengadakan Pembinaan secara periodik kepada penghulu dalam pelaksanaan tugas dan pelayanan publik Membagi, memantau dan mengevaluasi seluruh tugas dan pekerjaan yang dilakukan penghulu KUA
2. Mengirimkan Penghulu untuk mengikuti pelatihan dan diklat peningkatan kualitas
3. Mengevaluasi kinerja penghulu

7 Pembinaan Pembantu PPN Pembantu PPN Meningkatkan loyalitas pembantu PPN 1. Mengadakan pembinaan P3N secara rutin menuju pelayanan prima kepada masyarakat Mengevaluasi kemampuan para pembantu PPN dan Modin Putri dalam melayani masyarakat KUA
2. Pelatihan dan pembinaan Perawat Jenazah Putri / Modin Putri
2. Pelatihan Penyembelihan Hewan bagi P3N dan Kaur Kesra

NO PROGRAM SASARAN KEBIJAKAN RKP 2011 PELAK-SANA
KEGIATAN POKOK STRATEGI
1 2 3 4 5 6 7
8 Membangun jaringan kerja lintas sektoral antar instansi 1. Dinas/Instansi/UPT Menjalin kerjasama dengan masyarakat dan lembaga Keagamaan yang ada dalam rangka membangun masyarakat 1. Mengadakan dan meningkatkan kerjasama dalam berbagai kegiatan dengan dinas instansi, ormas, orsos dan masyarakat serta berperan aktif dalam kegiatan mereka Mengadakan Kegaiatan bersama dan saling membantu/ mendukung dalam pembinaan masyarakat secara umum KUA
2. Masyarakat dan Lembaga Keagamaan Jalin kerjasama dg Instansi lain utk mem bangun Masyarakat 2. Peningkatan Kerjasama dengan IPHI kragan
3. Khutbah Jum’at Lintas Sektoral
4. Majelis Ta’lim Lintas sektoral
9 Pembinaan Badan Semi Resmi Badan semi resmi seperti BP-4, BAZ, BKM, LP2A, BHR, dll Mengaktfikan peran badan semi resmi 1. Melakukan penyegaran, peningkatan dan optimalisasi kinerja organisasi dan aktifitasnya Mengoptimalisasi kinerja pengurus badan semi resmi agar lebih efektif dan efisien dalam kegiatannya KUA
2. Pembentukan dan pemberdayaan Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz (JQH)
10 Publikasi Profil KUA Dinas, instansi, masyarakat, organisasi sosial dan keagamaan Mempublikasikan profile KUA kepada masyarakat Menginformasikan dan membuat data base tentang semua kegiatan dan hal-hal yang menjadi bidang tugas dan fungsi KUA Membuat leaflet, dan publikasi kegiatan yang dilaksanakan KUA kepada masyarakat KUA

Rembang, 03 JANUARI 2011
Kepala KUA kragan

DRS. H. ZUHRI
NIP. 196511291994031001

Leave a Comment more...

KESERASIAN (KAFA’AH) DALAM PERNIKAHAN

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga

Mereka mengatakan bahwa kufu itu ada enam

maka jawabku, itu sudah berlalu [kuno]

sesungguhnya yang diketahui anak jaman sekarang, hanyalah

kemudahan mencari dirham [uang][1]

Sebagian orang masih memandang perlunya kafa’ah walaupun keberadaannya tidak berpengaruh atas keabsahan pernikahan. Kufu atau kafa’ah yang bermakna keserasian, kesetaraan atau keselarasan dalam menentukan calon pendamping adalah hak yang boleh dijadikan tolok ukur keluarga pengantin perempuan dalam menentukan calonnya. Sementara bagi laki-laki kafa’ah tidak diperlukan sehingga dalam literature fikih dinyatakan bahwa yang dapat menggugurkan keharusan adanya kafa’ah ini adalah keluarga dan calon pengantin perempuan.

Mengapa diperlukan kafa’ah ?

Perkawinan adalah langkah awal pembentukan sebuah keluarga yang membutuhkan pasangan yang serasi dan memiliki keterpaduan dalam merangkai hubungan diantara mereka serta segenap keluarga mereka. Sehingga jika keduanya berasal dari kelas atau golongan yang setara, dikawatirkan akan terjadi kesulitan dalam mewujudkan hubungan yang harmonis yang pada akhirnya berujung pada bubarnya perkawinan.

Kalangan yang menganggap pentingnya kafa’ah mendasarkan pendapatnya pada ;

1. Hadits Nabi dari Ali RA yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan al-Hakim;

“Tiga hal yang jangan ditunda [1]shalat jika telah masuk waktunya,[2]jenazah jika sudah tiba, dan [3] gadis yang sudah mendapatkan jodoh yang sepadan”.

2. Hadits Nabi dari Jabir yang diriwayatkan oleh Daruquthny dan Baihaqi:

“Jangan nikahkan wanita kecuali dengan orang- orang yang sekufu, jangan menikahkan mereka kecuali wali mereka, dan tiada maskawin di bawah 10 dirham”

3. Hadits Nabi dari Aisyah dan Umar yang diriwayatkan oleh al-Hakim:

“Aku akan mencegah perkawinan orang- orang yang memiliki nasab kecuali dengan pasangan yang sepadan”

Serta masih banyak hadits-hadits lain yang mengharuskan adanya kafa’ah sehingga pensyaratan kafa’ah dalam pernikahan ini menjadi pendapat jumhur termasuk madzhab empat.

Sedang yang tidak mensyaratkannya antara lain ats-Tsauri, Hasan Bashri, dan al-Karkhi (Hanafiyah), adapun dasarnya adalah sabda Nabi “Manusia itu sama seperti jajaran gigi, tidak ada keutamaan bagi orang arab maupun ajam [selain arab]. Sesungguhnya keutamaan itu terletak pada ketakwaannya”. Serta fakta sejarah yang mencerminkan kesetaraan sesama muslim yang diajarkan oleh Nabi. Salah satunya adalah menikahnya seorang mantan budak [Bilal bin Rabah] dengan seorang perempuan merdeka dari kaum anshar.

Ukuran kafa’ah

Sebagaimana Syafi’i, ukuran kesepadanan ini dilihat dari lima hal, yaitu ;

1.  Agama [pengamalannya]

2.  Status [merdeka/budak]

3.  Nasab [asal usul] dan Hasab [sifat pendahulu]

4.  Profesi

5.  Kondisi fisik dan mental

Dalam literature fikih dewasa ini dinyatakan bahwa kafa’ah dapat dinilai dari adapt istiadat yang berlaku, dan hanya menjadi hak perempuan dan walinya sehingga jika suami tidak sepadan dan perempuan belum hamil, mereka[perempuan dan wali] berhak membatalkan pernikahan [fasakh] sebagaimana diungkapkan oleh Wahbah Zuhaili.


[1] Syair gubahan Mar’i Al- Hambali dikutib oleh Sayyid Bakri Syatho dalam I’anatuth Tholibin.

Leave a Comment more...

MENGUTAMAKAN PENDIDIKAN AKHLAQ ANAK

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga

”Tidak ada pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya, selain akhlak yang baik” (HR Tirmidzi)

Zaman modern penuh kompetisi menuntut manusia terus berpacu dalam persaingan yang begitu tajam dan keras, hanya yang terbaik yang berhak jadi pemenang. Maka manusia semakin asyik dalam ”ritual” itu: mematut diri menjadi yang ”serba” dan ”paling”. Serba-paling hebat, kaya, pintar, cantik, berkuasa, dan semacamnya. Atas nama kompetisi, manusia dirasuki nafsu saling mengalahkan. Bila perlu memakai ”jalan pintas” yang menerabas moral dan akhlak seperti berlaku culas, mengorbankan kejujuran, keadilan, persahabatan, kebersamaan, dan semacamnya.
Fenomena ini berjangkit juga di kalangan orang tua dalam memperlakukan anak. Para orang tua begitu bernafsu membentuk anak mereka menjadi ”juara”. Anak-anak diperlakukan seperti tong kosong yang dijejali berbagai tuntutan. Mereka ingin anak-anaknya hebat, pandai, menguasai berbagai bakat, seni, kerampilan, olah raga. Maka disusunlah jadwal les ini-itu, lomba ini-itu. Sayang, banyak orang tua yang tidak bersemangat menyiapkan pendidikan akhlak bagi anak-anaknya. Memiliki anak ”shaleh” sepertinya hanya ungkapan klise dalam doa dan pidato. Prakteknya, orang tua tidak serius menyiapkan anak-anak menjadi orang shaleh. Yang penting nilai raport bagus, sekolah bagus, tak peduli shaleh apa tidak. Orangtua lebih mengkhawatirkan raport anak dibanding kemerosotan akhlak dan budi pekerti mereka. Mereka malu bila nilai matemtika anak kurang baik, tapi tak begitu risau bila nilai agamanya biasa-biasa saja. Mereka merasa susah bila anaknya tak lancar berbahasa Inggris namun santai saja bila anak kurang lihai baca al Qur’an. Maka mereka memprioritaskan les privat bahasa Inggris, matematika, kursus komputer, misalnya, daripada mengajari anak mengaji. Mereka lebih suka membelikan anaknya handphone dengan fitur terbaru, komputer canggih daripada menyuruh anak selalu membawa Qur’an. Memang tingginya prestasi anak di setiap pelajaran, seni, olah raga adalah sebuah kebanggaan tersendiri, namun jangan lupa, makna sukses yang sejati dalam mendidik anak adalah bila anak juga punya akhlak mulia.
Idealnya prestasi akademis juga dibarengi dengan kemuliaan akhlak. Menjadi ”bintang, juara”, sekaligus shaleh, berbudi luhur, berakhlak mulia. Sehingga ketika anak menjadi bintang kelas, maka ia tetap rendah hati, dan tidak takabur. Semua prestasi anak menjadi tidak berarti bila ia bersikap sombong, riya, tinggi hati, besar kepala, takabbur, apalagi merasa iri bila ada teman lain yang lebih baik.

Kemerosotan Akhlak
Banyak kalangan termasuk kaum cendekiawan dan ulama menengarai saat ini telah terjadi kemerosotan akhlak dikalangan anak-anak. Beberapa bukti sederhana bisa dipaparkan disini. semisal budaya cium tangan dan mengucap salam sebelum anak berangkat sekolah, mengucap salam dan bertegur sapa saat bertemu di jalan, hormat pada orang tua, hormat pada guru dan beberapa hal lain yang bisa mencerminkan Kemuliaan akhlak, tak lagi akrab dijumpai pada sebagian anak-anak kita. Seorang kawan yang kebetulan menjadi pendidik pernah mengeluh tentang anak didiknya yang tak begitu punya rasa respek pada guru. Keluhan itu juga diamini oleh beberapa pendidik yang lain.
Namun, tentu saja tidak adil bila semua kesalahan ditimpakan pada anak-anak semata. Jika, anak kurang mengenal sopan-santun bisa jadi karena anak kurang diajari dan dibimbing bagaimana bersopan-santun, ber-unggah-ungguh serta bagaimana tatanan moral akhlak yang semestinya. Di sekolah anak dikondisikan dan dibebani tugas dan kegiatan yang lebih banyak mengedepankan aspek intlektual, sedangkan aspek emosional dan aspek spiritual kurang memperoleh pendalaman. Para pendidik juga tak sepenuhnya salah, sebab materi yang mereka berikan harus mengacu pada kurikulum yang ada, yang lagi-lagi lebih mengedepankan kecerdasan intelektual dengan penilaian berupa angka-angka sebagai indikator kelulusan. Maka ”ijasah” menjadi semacam dewa, sehingga Ujian Akhir Nasional dan pengumuman kelulusannya menjadi momok menakutkan bagi anak dan orang tua.
Kemerosotan akhlak anak sebenarnya merupakan buah dari kemerosotan akhlak orang tua, masyarakat dan bangsa ini. Tak bijak menyebut kenakalan anak, kenakalan remaja, tapi melalaikan adanya “kesalahan” orang tua. Anak-anak adalah potret lingkungannya. Mereka juga produk dari baik atau buruk tata nilai yang berlaku dan berkembang di sekitarnya.
Islam menawarkan solusi untuk mengatasi degradasi moral yang melanda dengan mengenalkan dan mengajari anak-anak pendidikan akhlak sejak dini dalam keluarga. Bukankah Rasulullah diutus ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sebagaimana yang pernah ditanyakan oleh seorang sahabat; “Mengapa engkau diutus ke dunia ini ya Rasul?” Rasul menjawab, “Innama buitsu liutamimma makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus ke dunia hanya untuk menyempurnakan akhlak).”
Rasulullah mengajarkan bahwa keislaman tidak hanya diukur dari luasnya pengetahuan ilmunya. Keimanan seseorang tidak diukur dari hebatnya pembicaraan dan argumentasi. Bila sekedar ilmu dan kemampuan berargumentasi, maka banyak orientalis non muslim yang lebih hebat dari kita. Louis Ma’luf, pengarang kamus Bahasa Arab “al-Munjid” yang kesohor itu ternyata non muslim. Kedudukan di sisi Allah ditentukan oleh ketaqwaan dan kemuliaan akhlak, baik akhlak pada Allah maupun pada sesama manusia. Sehebat apapun ilmu pengetahuan dan amal kita, sebanyak apapun harta kita, setinggi apapun kedudukan kita, jika akhlaknya rusak maka semua tidak bernilai apa-apa.
Menurut Imam Al Ghazali, akhlak adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Saat berdiam diri, akhlak seseorang tidak akan tampak. Namun respon terhadap kejadian yang dialami itulah yang menjadi alat ukur akhlak seseorang. Kalau respon spontan yang pertama kali keluar adalah suatu hal atau kata-kata yang baik, bahkan selalu berwajah cerah, tetap ramah, bahkan marahnya pun karena Allah, yang kesemua itu tanpa rekayasa, (karena kemuliaan akhlak seseorang akan muncul dengan sendirinya) berarti kemuliaan akhlak itu sudah ada pada dirinya. Sebaliknya, kalau akhlak nya rendah, maka yang muncul dari respon pertama kali adalah putus asa, menghalalkan segala cara, mencaci maki, memfitnah, melaknat, dengki, bakhil, menggunjing, sering menghasut, keluar sumpah serapah, caci maki atau perbuatan jelek lainnya.
Rasul bersabda, “Khairunnas anfa’uhum linnas”, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari-Muslim). Ini bisa kita pahami bahwa derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari seberapa besar dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jika ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak seseorang, maka ukurlah nilai manfaat orang itu untuk orang lain. Dengan catatan upaya memberi manfaat tersebut dilandasi niat semata untuk Allah dan bukan untuk tujuan lain seperti mengharap pujian, kedudukan, popularitas maupun imbal balik yang lain.
Beberapa Kiat Sederhana
Sekali lagi, mendidik akhlak sedini mungkin kepada anak adalah pilihan yang harus diambil para orang tua bila menginginkan anak-anaknya selamat dari pusaran zaman yang penuh tipudaya ini. Kejujuran, sikap kasih sayang, amanah, pemaaf, suka menolong, hormat pada sesama, pemurah, bersikap adil, mandiri dan akhlak mulia yang lain mesti mulai dikenalkan pada mereka. Langkah sederhana berikut ini tampaknya perlu untuk dicoba:
1) Ajarkan mulai dari hal kecil dan sederhana lebih dulu, misalnya mengajarkan berpamitan dan mencium tangan ketika anak akan bepergian, mengucap salam dan “terima kasih”, segera minta maaf bila ia salah, dan hal lain yang tampak sepele namun punya arti besar bagi perkembangan kepribadian mereka.
2) Ajarkan untuk mandiri dan tidak selalu menggantungkan diri pada orang lain. Misalnya; menata mainannya, membersihkan kamar, merapikan tempat tidur, mengatur tata letak buku, menyemir sepatu, menyetrika baju mereka sendiri, dan lain-lain. Bila anak telah mampu untuk melakukan hal itu sendiri tanpa bantuan orang lain maka ia sesungguhnya telah belajar bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
3) Keteladanan orang tua. Orang tua adalah panutan, teladan dan contoh bagi anak. Mereka akan selalu meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Bila anak diajari untuk shalat sedangkan orangtua tidak menjalankannya maka jangan harapkan anak untuk mau shalat. Anak dituntut untuk belajar mengaji/membaca al-Qur’an dan puasa, namun orang tua tidak pernah memberi contoh, maka mereka pun akan malas. Anak diajari untuk banyak bersedekah namun bila orang tua mereka pelit maka mereka akan ikut-ikutan enggan bersedekah, dan lain sebagainya. Kunci keberhasilan pendidikan moral akhlak diantaranya yaitu adanya keteladanan orang tua
4) Ajarkan berbagai perbuatan baik melalui cerita. Kisah orang shaleh/mulia, tokoh yang berperan dalam sejarah layak disampaikan pada mereka. Perlu ditanamkan pada anak bahwa seseorang dikenang karena kemulian dan perjuangannya. Bukan karena warisan harta benda atau hal-hal materi lain. Contoh tentang kemulian Rasulullah SAW, para sahabat, ahlul bait, hingga ulama dan tokoh yang ada di sekitar kita penting disampaikan. Contoh tentang pedagang yang jujur bisa kita sampaikan saat mengajak anak belanja ke pasar. Penting juga mengawasi bahan bacaan dan tontonan anak. Banyak pihak meyakini “apa” yang dibaca/ditonton anak berpengaruh besar bagi perkembangan akhlak mereka.
5) Menjadikan rumah sebagai ”madrasah” bersama, tempat untuk saling belajar. Keluarga adalah tempat anak menimba ilmu pertama kali. Bila anak dalam sebuah keluarga diperlakukan secara terhormat, ia akan menghormati orang lain, bila ia diberi limpahan kasih sayang, maka ia akan sayang dan peduli orang lain. Bila ia diperlakukan kasar, ia akan semena-mena, bila tidak diberi cukup kasih sayang maka ia akan acuh terhadap orang lain.
6) Hindarkan anak dari pengaruh buruk lingkungan. Ini karena lingkungan punya pengaruh besar pada kepribadian anak. Bila ia dibesarkan di lingkungan masyarakat yang baik, ia akan menjadi baik. Bila ia dibesarkan di lingkungan yang bobrok moralnya maka kepribadian anak pun akan tambah semakin rusak.

Indikator keberhasilan
Beberapa indikator untuk mengukur keberhasilan pendidikan akhlaq, antara lain:
1) Ketaatan anak pada ajaran agama. Yang ditandai dengan rajin dan khusyuknya anak dalam beribadah, tingginya nilai ketaqwaan anak, dan semakin meningkat nya kuantitas serta kualitas ibadah anak.
2) Kemuliaan akhlaq dan tingkah laku. Anak dalam kesehariannya bersikap sopan, santun, menghormati orang tua, patuh pada perintah orangtua, mandiri dan selalu mempraktekkan akhlak mulia yang lain.
3) Anak mampu menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan orang tuanya. Di masyarakat, anak juga mampu menjaga nama baiknya dan nama baik keluarganya.
4) Keberadaan anak bermanfaat bagi orang lain. Karenanya, keberadaan anak dirindukan banyak orang, lisannya terjaga, orang lain merasa aman dan percaya bila bersamanya, perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya, sikapnya berwibawa, penyabar, lemah lembut, penyantun, penuh kasih sayang, tahu berterima kasih, sedikit membuat kesalahan, menjaga silaturahmi, bisa mengendalikan dan menahan diri.
Semoga kita menjadi guru sejati untuk anak-anak kita. Guru terbaik yang layak menjadi tauladan, yang membantu mereka menjadi manusia yang lebih baik dan menyiapkan mereka menjadi manusia yang bertaqwa dan berakhlak yang mulia. Wallahu al’lam bi al shawab.
*H. Nur Khamid, Penghulu KUA Kec. Kaliori

2 Comments more...

SUDAHKAH KITA MENJADI ORTU IDAMAN

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga

Suatu hari di TV tayang sebuah acara reality show untuk remaja. Saat ditanyakan kepada mereka siapa tokoh atau sosok yang dikagumi dan diidolakannya, lalu meluncurlah nama-nama. Yang membuat kita prihatin tak satupun mereka yang mengidolakan orangtuanya.
Bagi mereka ternyata figur orangtua tak cukup menarik dan kalah pamor dari para selebritis musik, sinetron, film dan olah raga.
Andai yang mereka sebut adalah tokoh besar peradaban semisal para nabi dan ilmuan, rasanya tidak masalah. Tapi mereka justru lebih memilih idola dari kalangan selebritis yang secara moral layak diragukan. Kenyataan ini menjadi sinyalemen buruk bagi segenap orangtua. Mungkin apa yang tersaji dalam tayangan televisi itu tak menggambarkan keseluruhan anak-anak kita, namun siapa yang bisa menjamin bahwa potret buram ”pengidolaan” itu tidak terjadi dirumah kita, atau jangan–jangan malah sudah ada di dalam rumah kita.

Kesalahan awal para orangtua
Orangtua di zaman modern ini banyak yang hanya menjadikan rumah sekedar sebagai tempat transit dari lalulalang kesibukan yang berjubel. Maka saat berada di rumah kondisi mereka sudah kepayahan karena ide-ide kreatif dan inovasinya telah terkuras di luar rumah. Sehingga, jangankan utk mengajari anak-anaknya mengerjakan PR, menemani tidur, makan bersama atau sekedar ngobrol pun sudah tidak lagi sempat, akibat berikutnya, rumah terasa kering dari siraman cinta kasih dan anak kehilangan guru sejati.
Banyak orangtua beranggapan dengan uang, fasilitas bermain atau sekolah favorit, tanggungjawab mendidik anak sudah tertunaikan secara benar, padahal sesungguhnya anak tak hanya butuh hal yang bersifat materi, tetapi juga kasih sayang, perhatian dan suri tauladan. Fasilitas pendidikan di luar rumah yang terbaik mungin mampu membentuk kepribadian anak, namun tak boleh lupa pendidikan didalam rumahlah penentu sedari awal kepribadian seorang anak.
Orang tua abai bahwa kesuksesan sejati sesungguhnya adalah ketika mereka sukses mendidik anak menuju pembentukan kepribadian yang sehat secara fisik dan mental. Apa artinya menjadi pengusaha sukses, pejabat tinggi, karier cemerlang jika anggota keluarganya ada yang terjerumus dalam tindakan sesat, semisal; narkoba, seks bebas atau yang lainnya. Bila itu terjadi, lalu siapa yang pertama mengalami penderitaan, paling dirugikan dan jadi korban? Jawabannya, tentu saja anak-anak.
Maka penting bagi para orangtua untuk segera introspeksi diri dan mengubah cara mereka dalam hal memperlakukan anak-anak. Apabila tidak, jangan-jangan para orangtua akan makin tidak populer dan ditinggalkan anak. Alangkah menakutkan andai ada pertanyaan tentang siapa tokoh paling di benci para anak? Lalu jawaban mereka adalah ayah dan ibunya. Naudzubillah min dzalik.
Menjadi orangtua, -ayah ibu- di era modern boleh dibilang gampang-gampang susah. Zaman sudah berubah, norma, etika, tata nilai telah bergeser. Orangtua dituntut bisa melakukan multiperan; menjadi teladan, pemimpin, guru, sahabat, bahkan menjadi kakak bagi anak-anaknya. Orangtua harus bersaing merebut perhatian anak dari berbagai hal; televisi, internet, perangkat teknologi baru, kawan sepergaulan, kegiatan sekolah dan banyak hal lain yang tidak semuanya membawa dampak positif. Bahkan, keluarga yang miskin ekonominya, beban tersebut semakin bertambah karena mereka juga harus bersaing dengan kemiskinan itu sendiri.
Kedekatan dengan anak menjadi hal penting, karena bila tidak, orangtua tak lagi memiliki kontrol dan pengetahuan yang cukup terhadap aktifitas anak. Siapa kawan-kawan dekatnya, apa kesibukan-kesibukannya, apa problem yang dihadapi dan lain sebagainya. Kondisi demikian membuat anak tak bisa bebas menyatakan perasaannya, dan menyampaikan berbagai hal tentang dirinya, keinginan atau bahkan problemnya. Bila hal ini berlanjut maka bisa jadi inilah awal bencana bagi keluarga karena orangtua sudah tak peduli dengan anak dan anak akan curhat dan dekat dengan orang lain yang belum tentu membawa pengaruh baik.

Kiat-Kiat
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar dapat membangun komunikasi, menjalin kedekatan dengan anak, sekaligus sebagai upaya menjadi orangtua idaman, diantaranya:
1) Mampu merumuskan visi-misi keluarga
Orangtua mampu menjelaskan visi dan misi keluarga kepada anak, sedangkan anak sadar untuk ikut menjaga visi dan misi serta komitmen keluarga yang telah disepakati. Ibarat berlayar dalam satu perahu, seluruh awak kapal baik nahkoda maupun penumpang memiliki tujan yang sama. Nahkoda/imam adalah suami, penumpang yang lain sebagai makmum. Menjadi penting untuk memberikan pemahaman kepada anak tentang pentingnya kesamaan dan kebersamaan dalam hal-hal tertentu yang prinsipiil. Misalnya tentang tujuan, cita-cita dan target keluarga, keyakinan dan agama yang harus diimani dan lain sebagainya.
Para orangtua bisa belajar dari kisah Lukmanul Hakim sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an tentang hal-hal prinisp apa yang mesti ditanamkan orangtua kepada anak, salah satunya yang paling penting adalah keyakinan akan keesaan Allah SWT (tauhid).
2) Punya kesungguhan untuk berkorban
Orangtua sebagai sosok yang lebih dewasa harus siap untuk mengalah, tidak egois dan tidak bisa semena-mena mengejar kebahagiaannya sendiri tanpa mempedulikan kebahagiaan bersama. Bahkan orangtua pantas berkorban untuk kebahagiaan anak, sekalipun harus ditebus dengan penderiatan. Banyak contoh yang menggambarkan bagaimana orangtua banting tulang memeras keringat demi membiayai pendidikan anak. Penderitaan itu berganti kebahagiaan manakala anak sukses meraih cita-citanya.
Dengan keteladanan orangtua, disertai penjelasan yang mudah diterima, seorang anak akan merekam pengorbanan orangtua dan belajar banyak darinya. Hal tersebut akan membentuk pola pikir, kedewasaan dan kepribadiannya. Rekaman itu akan menuntunnya menjadi orang yang berjiwa pejuang, memiliki semangat berkorban sekaligus menghargai pengorbanan orangtuanya. Banyak kita lihat orangtua yang telah bekerja keras dan berkorban untuk anak, namun anak justru mengabaikan dan kurang menyambut perjuangan dan pengorbanan orangtuanya. Hal ini disebabkan kurangnya komunikasi orangtua dengan anak -secara tepat- tentang apa yang dilakukannya.

3) Menjadi Orangtua Super
Orangtua seharusnya punya pengetahuan yang cukup diberbagai bidang serta selalu menambah ilmu agar anak merasa orangtuanya adalah sosok yang selalu siap saat anak membutuhkan penjelasan dan mampu menjadi guru sejati bagi mereka. Saat ini para anak butuh orangtua yang ”super”. Orangtua yang mampu menuangkan kesejukan dalam setiap jawaban saat anak sedang dahaga pengetahuan. Tentu orangtua yang super tidak harus tahu ilmu matematika, kimia, fisika, komputer yang melebihi sang anak, walaupun sekiranya bisa, hal seperti itu jelas lebih baik.
Orangtua super yang dimaksud adalah orang tua yang mampu membangun motivasi dan semangat anak, menumbuhkan kepedulian, kepekaan pribadi dan sosial mereka serta mampu menuntun dan membimbingnya menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu. Anak perlu diyakinkan bahwa orangtuanya adalah sosok yang membanggakan, yang tidak kalah hebat dengan orangtua lainnya, bahkan lebih hebat. Hal ini mengharuskan orangtua untuk tidak pernah berhenti belajar agar orangtua selalu memiliki hal-hal baru yang bisa dibagi dan disuguhkan kepada anak.

4) Selalu punya waktu
Orangtua diharapkan selalu punya waktu untuk anak dan punya kesungguhan untuk membantu dan mendampingi mereka, yang kesemuanya itu dikomunikasikan dengan anak sehingga anak tahu. Mungkin karena sibuk, orangtua tak selalu punya waktu saat sang anak membutuhkan. Tapi kesungguhan untuk memberi yang terbaik kepada anak benar-benar bisa dirasakan sang anak, karena kualitas komunikasi yang baik. Banyak contoh disekitar kita dimana sebuah keluarga melewati kebersamaan dalam waktu yang panjang, dengan menonton tv bersama, minum teh atau ngobrol ringan, namun durasi waktu tersebut kurang mampu memba-ngun jalinan kesepahaman yang kokoh antar mereka, mengapa ini terjadi? Karena kebersamaan itu hanya mampu mendekatkan mereka secara fisik, hanya tampak dipermukaan saja, dan kurang mampu mendekatkan hati mereka, kurang mampu mengeksplor hal yang tersembunyi, yang berbeda, yang butuh dicarikan ruang untuk saling menyesuaikan.
Anak berhak berbagi persoalan dengan orangtuanya kapan saja selagi hal itu memungkinkan. Kalau orangtua khawatir hal itu akan menjerumuskan anak menjadi manja, kurang dewasa dan semacamnya, maka berikan keyakinan kepada anak tentang pentingnya belajar mandiri tanpa ada kesan membatasi akses anak untuk menyampaikan perasaannya atau untuk berkomunikasi dengan orangtua.

5) Memperlakukan anak secara terhormat dan bermartabat.
Bila orangtua menginginkan anak menjadi terhormat maka perlakukanlah mereka secara terhormat semenjak kecil. Hanya orang-orang yang mengenal kehormatan yang akan hidup secara terhormat. Sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah.
”Ummu Fadhl bercerita; suatu ketika aku menimang seorang bayi, Rasul kemudian mengambil bayi itu dan menggendongnya. Tiba-tiba sang bayi pipis dan membasahi pakaian Rasul, segera saja kurenggut secara kasar bayi itu dari Rasul dan Rasulpun menegurku; ”pakaian yang basah ini dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa sang anak akibat renggutanmu yang kasar itu?”.
Rasul tidak ingin rasa rendah diri atau berdosa menyentuh jiwa anak yang dibawa hingga ia dewasa. Karena alasan itulah mengapa dalam hal tertentu Rasul tidak membedakan perlakuan kepada anak dan orang dewasa, misalnya dalam mengucapkan salam. Mengucap salam pada seorang anak setidaknya memberi dua dampak positif, yaitu menanamkan rasa rendah hati dan percaya diri. Karena yang banyak terjadi sekarang tidak hanya renggutan kasar namun juga cemoohan, hardikan b a h k a n kekerasan fisik yang diterima anak-anak kita. Dalam bentuk lain adalah adanya ketidakpedulian, sikap cuek dan egoisme orangtua.
Padahal menurut riset, 90% rasa rendah diri pada orang dewasa disebabkan adanya perlakuan yang dialaminya sebelum dia dewasa. Bila hardikan dan pukulan yang diterima anak, jangan salahkan bila kelak ia menjadi ”preman” dan tidak peduli pada kesantunan. Bila hinaan, cemoohan dan sikap sinis yang biasa mereka dapat, maka jangan salahkan bila kelak mereka tidak memiliki sikap tenggangrasa dan tidak peduli sesama.
Demikianlah beberapa kiat yang bisa dilakukan oleh para orangtua agar bisa menjalin kedekatan dengan anak sekaligus menjadi orangtua idaman bagi mereka. Bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan istiqomah, akan tiba sebuah masa dimana ketika anak-anak menyebut dan menceritakan orangtuanya disertai dengan sikap hormat dan rasa bangga. Bukan sebaliknya, dengan sikap sinis dan penuh rasa benci…mau?!

2 Comments more...

KELUARGA SAKINAH

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga

Tujuan perkawinan adalah untuk membentuk sebuah keluarga (rumah tangga) yang sakinah, sejahtera, selama-lamnya berdasarkan Ke-tuhanan Yang Mahas Esa. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Setiap orang menginginkan terciptanya tujuan perkawinan tersebut, dalam memperoleh keselamatan hidup di dunia dan akherat.
Dari keluarga sakinah inilah kelak akan terwujud masyarakat yang rukun, damai dan makmur baik marterial dan spiritual. Bahkan menjadi cita-ciata dan tujuan pembangunan nasional yang sedang dan akan terus dilaksanakan pemerintah dan rakyat Indonesia. Agar cita-cita dan tujuan tersebut dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya maka suami-isteri yang memegang peranan utama dalam mewujudkan keluarga sakinah.
Namun dalam kenyataan peranan suami-isteri tidak terlepas dari ujian dan tidak sedikit yang tergoyahkan atau bahkan mengalami kehancuran rumahtangganya. Setiap bulan perceraian cenderung selalu terjadi. Ini dapat diamati dari putusan atau penetapan perceraian yang didaftarkan di Kantor Urusan Agama. Informasi di mas media atau media cetak dapat kita baca setiap hari peristiwa terjadinya keluarga bermasalah dan tentunya masih banyak lagi peristiwa itu yang tidak terekspos. Hal ini tidak terlepas dari factor-faktor yang menyebabkannya. Lihat alasan perceraian dalam UU tentang Perkawinan. Untuk mensikapi persoalan semacam ini, maka diluncurkanlah apa yang kita kenal dengan program gerakan pembinaan keluarga sakinah pada tahun 1993. Dalam program tersebut disebutkan bahwa untuk mencapai tujuan perkawinan, suami-isteri tidak hanya dituntut memahami tentang hak-hak dan kewajibannya sebagai suami isteri tetapi keduanya masih harus melakukan berbagai upaya yan d dapat mendorong kea rah tercapainya cita-cita untuk mewujudkan keluarga sakinah, yaitu:
a. Membina hubungan antara anggota keluarga dan lingkungan,
b. Melaksanakan pembinaan kesejahteraan keluarga,
c. Membina kehidupan beragama dalam keluarga, dan
d. Mewujudkan harmonisasi hubungan antara suami-isteri.
Dari keempat upaya tersebut, maka kelompok kami dalam makalah ini hanya dkana membatasi pada perssoalan yang keempat yaitu bagaimana upaya harmonisasi dalam hubungan suami-isteri, dalam membina keluarga sakinah.
1. Landasan Hukum.
a. Al-Qur’an Surat ar-Rum ayat: 21.
Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
b. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir
Artinya: “Ada empat factor terwujudnya kebahagiaan hidup seseorang (dalam keluarga), yaitu: memiliki isteri yagn solihah, memiliki keturunan yang baik, hidup di lingkungan orang-orang soleh, dan memiliki pekerjaan di negerinya.”
c. UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawiwnan, yaitu pasal 1:
“Perkawinan adalah ikatan lahiar batin anatara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Keetuhanan Yang Mahas Esa.”
d. Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
e. KMA Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pembinaan Keluarga sakinah.

ada beberapa persoalan yang menarik untuk dikaji dalam makalah ini, yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan harmonisasi hubungan suami isteri atau rumah tangga itu?
2. Bagaimana upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk keharmonisan hubungan suami-isteri dalam membina keluarga sakinah?
3. Apa akibat yang terjadi menyangkut ada atau tidak adanya keharmonisan keluarga?

Upaya-Upaya Harmonisasi Hubungan Keluarga Dalam Membina Keluarga Sakinah

Sebelum memasuki pada pembahasan makalah ini, terlebih dahulu akan dikemukakan batasan-batasan berkaitan dengan pengertian judul makalah yang diangkat, yaitu: suami, isteri, harmonisasi, membina, keluarga sakinah.
Suami berarti kata yang takzim yaitu laki. Selain sumai ada istilah ayah. Ayah adalah matahari keluarga. Atau suami dari isteri dan bapak dari anak-anak. Dia adalah matahari keluarga, sumber dari kehidupan sebuah keluarga dan manusia yang paling bertanggung jawab terhadap keluarga baik semasa masih di dunia ataupun kelak di akhirat di hadapan Allah SWT.
Isteri berarti wanita (perempuan) yang telah menikah atau yang bersuami, wanita yang dinikahi. Selain Isteri ada nama lain yaitu ibu. Ibu adalah isteri dari suami dan ibu bagi anak-anak. Ia adalah rembulan yang mengayomi, menjaga dan memberi keteduhan terhadap segenap anggota keluarga. Ibu adalah simbol kasih sayang dan tempat reproduksi sebuah keluarga. Islam sangat menjunjung tinggi derajat seorang ibu, oleh karena itu menghormati ibu berarti menghormati Allah.
Harmonisasi berarti pengharmonisan, pencarian keselaarasan Harmonis berarti selaras, serasi; dan keharmoniosan: keadaan selaras, serasi, keserasian, keselarasan. Upaya berarti usaha, syarat untuk menyampaikan, ikhtiar; berupaya: berikhtiar; mengupayakan: melakukan sesuatu untuk mencari akal, jalan dan sebagainya. Membina berarti membangun. Sedangkan penyebutan kata
Keluarga dalam al-Qur’an memiliki aneka lafal yang berbeda seperti: ahlun dan alun. Menurut Abdul Wahab Khallaf, pakar hukum Islam ditemukan sebanyak 70 ayat yang secara spesifik mengulas soal keluarga. Sakinah berarti tenang atau tenteram .
Dari penjabaran tersebut, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa untuk mewujudkan keluarga sakinah perlu dilakukan upaya harmonisasi hubungan antara suami-isteri dalam rumahaa tangga.
Keluarga sakinah adalah sebuah keluarga yang memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa dalam menjalankan tugas-tugas sosialnya , sesuai firman Allah QS. Ar-Rum: 21. Secara sosiologis, perkataan keluarga sakinah dapat pula disebut keluarga simetris. Namun sebagian orang menilai terdapat perbedaan antara keluarga simetris dengan keluarga sakinah. Keluarga sakinah tidak hanya memiliki keseimbangan danan peran-peran domestik dan sosial (khilafah), tetapi terpenting keseimbangan dalam mewujudkan fungsinya sebagai hamba Allah (vertikal). Dengan demikian, keluarga sakinah adalah keluarga yang memperoleh ketentraman lahir dan batin, sejahtera duniawi dan ukhrowi, dan akhirnya menejadikan seluruh rangkaian kehidupannya sebagai sarana beribadah kepada Allah SWT.
Untuk mewujudkan dan membina keluarga tersebut diperlukan upaya-upaya yang harus dilakukan, salah satunya adalah harmonisasi hubungan keluarga, khususnya suami-isteri. Sedangkan yang dimaksud dengan keluarga yang harmonis adalah struktur keluarga itu utuh, dan interaksi diantara anggota keluarga berjalan dengan baik, artinya hubungan psikologis di antara mereka cukup memuaskan dirasakan noleh setiap anggota keluarga.
Untuk menciptakan sebuah keharmonisan hubungan suami-isteri dalam rumah tangga, sebelum pernikahan sudah sangat ditekankan terpenuhinya persyaratan nikah yang mengisyaratkan adanya faktor sebagai pendukung terciptanya keharmonisan keluarga, seperti syarat adanya batasan umur —bagi calon penganten baik putra maupun putri yang sudah dianggap dewasa adalah sudah berusia 21 tahun. Jika calon isteri sudah berusia 16 tahun dan putra 19 tahun maka diharuskan ada surat ijin orang tua. Dan jika kurang dari usia tersebut baik putra maupun putri diharuskan mendapatkan ijin pengadilan — yang mencerminkan calon pasangan suami-isteri yang diharapkan dapat mempersiapkan diri sekaligus dapat beradaptasi dengan pasangannya masing-masing dalam berumaha tangga. Termasuk adanya kriteria keahlian dalam bertindak dan dapat mendengar perkataan yagn merupakan kriteria yagn harus dimiliki koleh calon suami.
Dari kriteria tersebut dapat kita pahami bahwa sejak awal pernikahan upaya harmonisasi dalam keluarga sudah menejadi sebuah keniscayaan. Dan jika tidak dapat memenuhi kriteria tersebut sebaiknya niat untuk menikah perlu dievaluasi lagi.
Termasuk juga adalah tentang persiapan-persiapan, baik persiapan lahir maupun batin. Persiapan lahir berupa persiapan fikriyah dan kesiapan fisik. Sedangkan persiapan batin adalah menyangkut persiapan ruhiyyah , yakni menikah adalah sebuah ibadah serta persiapan psikologis yaitu siap berbagi dengan orang ”asing”.
Pada tahun pertama perkawinan, pasangan dalam meleburkan kepentingan dua dkepala dan seseorang menejadi satu kepentingan atas nama bersama. Pada masa ini pasangan memiliki serba positif tentang konsep pernikahan. Sikap positif tinkhing menjadi dasar setiap pasangan dalam mewujudkan kehidupan perkawinan yang kekal seperti yang mereka bayangkan.
Masa-masa pernikahan juga bisa menjadi masa-masa penuh percobaan karena penyesuaian awal ini butuh pengorbanan. Jika berhasil, pasangan akan memasuki masa-masa penyesuaian tahap berikutnya dengan landasan yang lebih kokoh. Sebaliknya, jika gagal menyesuaiakan diri dan menghabiskan banyak energi untuk memahami atau menuuntut pasangan agar sesuai dengan harapan, maka perkawinan akan disibukan dengan hal-hal kecil. Kalau dibiarkan akan menjadi besar.
Banyak sekali hal-hal yang menjadi hambatan dari tahun ketahun yang menjadi tantangan yang tentunya justru diharapkan dapat memperkuat kehidupan rumah tangga untuk memasuki tahap berikutnya yang lebih menantang. Adapun tantangan tersebut adalah:
a. Sukar melepaskan gaya hidup lajang.
Banyak orang yang dmemasuki gerbang rumah tangaga dengan pemahaman bahwa pasangannya akan memahami gaya hidupnya saat melajang. Mayoritas manusia lupa bahwa dirinya telah menempuh hidup baru yang kemarin masih sendiri dan secara tiba-tiba harus terbiasa menejadi dewasa dan berstatus seorang suami atau isteri. Sebaiknya, hal ini menjadi persiapan bagi setiap yang akan menikah dan dibicarakan dengan sungguh-sungguh.
b. Sulit beradaptasi. Yang didmaksud beradaptasi bukan hanya dengan si isteri tetapi dengan kehidupan baru yang ditempuhnya. Ada pasangan yang mudah berbaur lingkungan tetapi ada juga yang sulit. Sebaiknya pasangan tidak terlalu menuntut dapat beradaptasi secepat kilat terhadap pasangannya.
c. Ekspektasi berlebih.
Umumnya, pasangan yang baru membayangkan kehidupan yang serba indah dan sempurna dalam menjalani kehidupan rurmah tangga. Kemudian merasa kecewa karena pasangannya tidak seperti yang ia bayangkan sejak mula. Dalam hal ini sebaiknya menerima kenyataan yang ada. Anggaplah kekurangan itu sebagai anugarah dan tantangan bagi kita untuk mengimbanginya dengan kelebihan kita.
d. Sukar menyatukan pendapat.
Tak sedikit pasangan yang baru menikah hanya menghabiskan waktu berduanya dengan beragumentasi membicarakan hal-hal yang tak terlalu penting dan mempertahankan egoismenya. Namun setelah menikah, semua keputusan diambil harus dengan kesepakatan bersama. Tridak ada salahnya bila masing-masing belajar kompromi dan mengalah demi kesenangan yang lain.
e. Masalah keuangan.
Pasangan yang berkarir sebelum menikah, mengalami banyak benturan mengenai keuangan bersama setelah memasuki gerbang rumah tangga. Kuangan rumah tangga modern yang makin fleksibel, sebenarnya jauh memudahkan pasangan yang sama-sama berpenghasilan sendiri untuk kompromi. Tinggal pilih mau tabungan bersama atau pengbagian pembiayaan rumaha tangga berdasarkan pos-posnya.
f. Terusik masa lalu.
Setelah menikah, sebaiknya masa lalu disimpan di dalam hati saja. Bila bagian dari mana lalu kembali mengusik setelah kita berumah tangga, yang harus diingat adalah tanggung jawab terhadap komitmen pernikahan dengan pasangan. Biarlah masa lalu menjadi kenangan dan mulailah masa kini dengan harapan baru menuju masa depan yang bahagia.
Tidak adanya keharmonisan hubungan suami-isteri dalam keluarga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor yang bersifat intern sendiri dan faktor yang bersifat ekstern. Adapun faktor yang bersifat intern antara lain adanya besar pasak dari pada tiang yang bersifat finansial, kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama dan sebagainya. Sedangkan faktor yang bersifat ekstern salah satunya adalah: adanya pengaruh negatif dari pihak ketiga.
Faktor-faktor tersebut sangat membahayakan terhadap ketentraman dan keberlangsungan hidup berumah tangga. Antara lain dapat terjadinya perceraian, kenakalan remaja. Ketidakharmonisan atau broken home ini bisa terjadi karena salah satunya meninggla dunia, perceraian.
Berkaitan dengan hala tersebut diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari semua komponen keluarga, yaitu ayah, ibu, dan anak. Adapun upaya mewujudkan harmonisasi hubungan suami-isteri dapat dicapai dengan melalui:
f. adanya saling pengertian
g. saling menerima kenyataan
h. saling menyessuaiikan diri
i. Memupuk rasa cinta
j. Melaksanakan asas musyawarah
k. Suka memafkan
l. Berperan serta untuk kemajuan bersama.
Tahapan selanjutnaya, perlu adanya upaya dalam memupuk atau membina kemesraan suami-isteri tersebut dengan melalui:
a. Kemitraan sejajar suami-isteri
b. Saling memuji kelebihan dan menyempurnakan kekurangannya
c. Memberikan hadiah
d. Saling memberi nasishat
e. Masing-masing mengangsikan diri
f. Saling terbuka dan saling pengertian
g. Menyatukan tujuan perkawinan
h. Perkawinan bernilai ibadah.
Selain tersebut diatas, baik dalam menciptakan ataupun memupuk serta membina keharmonisan keluarga perlu memperhatikan etika yang ada. Adapun etika tersebut adalah:
a. Mendasarinya dengan taqwa dan ikhlas
b. Selalu bermusyawarah
c. Keterbuakaan
d. Adil dan berimbang
e. Memperhatiakan tugas utama
f. Strata ketaatan jadi solusi
g. Membangun kebersamaan dengan sholat berjamaah
h. Memberi keteladanan dan meneladani
i. Tepat saat memberi nasehat
j. Mempedomani norma nash untuk diri bukan untuk menekan pihak lain
k. Memperkuat hubungan batin
l. Saling memuji .

Dari deskripsi tersebut, kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Dimaksud dengan keluarga yang harmonis adalah struktur keluarga itu utuh, dan interaksi diantara anggota keluarga berjalan dengan baik, artinya hubungan psikologis di antara mereka cukup memuaskan dirasakan noleh setiap anggota keluarga. Keharmonisan rumah tangga merupakan salah satu faktaor utama dalam membina keluarga sakinah.
2. Upaya harmonisasi hubuangan keluarga dilakukan sejak awal pernikahan melalui tahapan-tahapan yang ada sebagai pijakan dalam menghadapi tantangan aatau ancaman yang menghadang serta upaya tersebut tidak hengkang dari etika pergaulan dalam rumah tangga
3. Faktor-faktor ketidakharmonisan hubuangan suami isteri dapat bersifat intern dan ekstern. Dan ketidakharmonisan keluarga dapat menyebabkan antara lain terjadinya perceraian dan kenakalan remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Asrorun Ni’am Sholeh, Fatwa-fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, (Jakarta: eLSAS, 2008), cet-2
Balai Diklat Semarang, Buku Panduan Diklat Pembina Keluarga Sakinah, 2009.
Departemen Gama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya

Departemen Agama RI, UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Departemen Agama RI, Membina Keluaraga sakinah, Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam RI, 2007.

Depag RI, Membina Kelduarga sakinah, Jakarta: Depag RI, 2007.

Kartubi, Mashuri, Baiti Jannati, Ciputat: Yayasan Fajar Islam, 2007.

Lubis, HM. Ridwan, Prof. DR., Cetak Biru Peran Agama, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005, cet-1.

Suharso, Drs. dan Dra. Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Semarang: CV Widya Karya, 2005, cet-1.

Tarmuji, Drs., H., MA., Kuliah Pada Mata Pelajaran Fiqih Munakahat dan Etyika Perkawinan, diklat Pembina Keluarga sakinah, Hari sabtu, 07 Februari 2009.

Wilis, Sofyan S., Drs., Problem Remaja dan Pemecahannya, Bandung: Angkasa, 1993

Leave a Comment more...

ISTRI SHALIHAH DAMBAAN SUAMI

Posted by kua kragan in Mar 23, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang shalehah” (HR.Muslim)

Menjadi istri sholihah memang merupakan dambaan setiap wanita. Karena dengan menjadi istri sholihah, Insya Allah, dapat membentuk keluarga yang Sakinah, Mawaddah Wa Rohmah. Model keluarga seperti inilah yang merupakan idaman dan impian bagi setiap keluarga dan setiap rumah tangga muslim.
Namun, untuk menjadi istri sholihah memang harus memenuhi kriteria atau syarat. Ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh setiap wanita atau istri yang hendak mencapai predikat istri solihah itu.
Dan hal-hal yang menjadikan wanita bisa dikategorikan sebagai istri solihah sebenarnya tidak sulit-sulit banget. Tapi sayangnya, alih-alih banyak istri yang ingin meraih predikat itu, namun kelakuannya bertentangan dengan apa yang disebut sebagai istri solihah. Malah tak jarang wanita yang terjerumus ke lembah yang hina.
Inilah agaknya yang sempat disinyalir oleh Rosululloh SAW, bahwa kebanyakan penghuni neraka itu adalah wanita. Kenapa? Karena biasanya seorang wanita ketika sedang marah ia lupa berterima kasih kepada suaminya. Ia lupa atas kebaikan suaminya selama ini, yang ada dibenaknya hanyalah kesalahan dan sesuatu yang menurutnya tak menyenangkan hatinya. Padahal, seperti juga pernah dituturkan oleh Rosulullh SAW, betapa mudahnya bagi kaum wanita untuk masuk surga.
“Apabila seorang wanita sholat lima waktu, berpuasa dibulan romadlon, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka ia berhak masuk ke dalam surga melalui pintu mana saja yang ia suka.”
Kemudahan itu hanyalah diberikan kepada kaum wanita. Sayangnya, banyak wanita yang gagal memanfaatkan kemudahan itu, Mengapa? boleh jadi karena banyak wanita yang lebih mudah tergoda oleh bisikan-bisikan syetan. Kendati banyak pula wanita-wanita yang kokoh, tak mudah tertipu oleh rayuan syetan. Dan wanita-wanita model inilah yang termasuk kedalam wanita atau istri solihah.

Model Istri Solihah
Lantas, seperti apa model atau tipe istri solihah? ada beberapa cirri yang mengindikasikan sebagai istri solihah. Antara lain:

Pertama, sejak awal nampak pada dirinya kepribadian yang tidak materialis, dia bukanlah tipe wanita Matre. Sejak awal pernikahannya ia tidak meminta persyaratan yang memberatkan bagi calon suaminya. Artinya, permintaan maskawin atau mahar pernikahannya tidak muluk-muluk. Bukankah, besar kecilnya mahar merupakan hak mutlak kaum wanita yang hendak dipinang.
Dan tipe istri solihah dapat dilihat dari apakah ia memberatkan calon suaminya dalam mahar atau tidak. Karena Islam sendiri mengajarkan agar wanita yang sholihah hendaknya meringankan mahar pernikahannya. Sehingga calon suaminya tidak merasa berat untuk membayar mahar kepadanya. Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh SAW, “Wanita yang paling baik adalah wanita yang maharnya paling sedikit.” ( HR . Thabrani).

Kedua, Ia mampu menjaga dirinya dan pandai menyenangkan hati suaminya. Ia juga bisa menjaga harta milik suaminya. Rosululloh SAW bersabda, “Sebaik-baik istri yaitu yang menyenangkan hatimu (Suami) ketika kamu lihat,taat kepadamu ketika kamu suruh,bisa menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu pergi.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Selain taqwa tidak ada kebaikan yang bermanfaat bagi seorang mukmin melebihi seorang istri yang solihah, yakni istri yang menyenangkan jika dipandang dan yang taat jika diperintah. Dan Jika suaminya membagikan sesuatu kepadanya ia menerimanya. Dan jika suaminya pergi meninggalkannya ia bisa menjaga dirinya dan harta suaminya”
Sekiranya suaminya pelit, tidak mau memberikan nafkah, maka sang istri boleh mengambilnya (tanpa sepengetahuan suami) sebatas keperluan keluarga sehari-hari. Lebih dari itu harus seizinnya.
Seperti pernah terjadi di zaman Rasululloh SAW, bahwa ketika Hindun Binti Uthbah mendengar firman Allah tentang larangan mencuri (Surat al-Mumtahanah; 60) ia berkata,” Saya pernah mencuri harta Abu Sufyan (Suaminya), karena ia suami yang sangat kikir”. Kemudian Rosululloh menganjurkannya untuk mengambil harta Abu Sufyan hanya sebatas untuk kebutuhan anak-anaknya, kebutuhan sehari-hari dan tidak boleh melebihinya.
Jelas disini istri solihah harus selalu menyenangkan suaminya ketika suaminya memandangnya, tidak cemberut melulu dan bertampang kusut didepan suaminya, juga tidak boleh mengambil harta suami tanpa seizinnya. Bahkan dalam ketaatan ini termasuk ketika suami ingin bersebadan dengannya, maka si istri tak boleh menolaknya kecuali dalam keadaan haid atau halangan-halangan yang dibenarkan menurut syari’at Islam.
Rosululloh pernah bersabda, ” Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur lalu sang istri menolak, sehingga sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya maka malaikat akan melaknatinya sampai pagi ” (Al-Hadits).

Ketiga, istri solihah harus taat dan tunduk pada suami. Istri harus mengakui kepemimpinan keluarga berada ditangan suami. Karena rumah tangga ibarat bahtera yang mengarungi lautan yang luas dan bahtera itu membutuhkan seorang nahkoda.
Dalam al-Qur’an disebutkan, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Oleh karenanya Allah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan) dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka.” (QS. Annisa’:04).
Dalam Hadits Nabi pun, pernah ditegaskan bahwa laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Yang jelas, ketaatan istri kepada suami ini merupakan keharusan demi kebaikan rumah tangga dalam menuju sakinah, mawaddah wa rohmah.
Dalam bagian lain Rosululloh SAW pernah bersabda berkaitan dengan ketaatan istri pada suami. “Sekiranya aku boleh menyuruh seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri sujud pada suaminya.” (HR.Tirmidzi).
Tetapi perlu diingat bahwa ketaatan istri pada suami dalam batas kebaikan dan kebenaran. Bila perintah suami melanggar aturan Islam, maka istri tak patut untuk menuruti perintah suaminya. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Allah.

Keempat, ia bisa menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Artinya, ia harus membatasi gerak dan langkahnya sehingga terhindar dari hal-hal yang menimbulkan fitnah dan keretakan rumah tangga. Karenanya, pergaulan dengan yang bukan muhrim harus benar-benar dibatasi dalam upaya menjaga kesucian dan kehormatan dan kesucian dirinya sebagi istri sah suaminya. Ia juga harus bisa menutupi aib dan kekurangan suaminya. Ia tidak boleh menceritakan keburukan dan kejelekan suaminya kepada orang lain. Apalagi sampai menceritakan “Pergaulannya” bersama suaminya ditempat tidur. Ini harus benar-benar dijaga jangan sampai tersebar ke area public. Semua itu biarlah hanya istri dan suami yang tahu dan menikmatinya.

Kelima, istri yang solihah harus pandai berterima kasih atas kebaikan suaminya. Sikap terima kasih ini harus ditunjukkan secara tulus dalam perilaku kesehariannya dalam rumah tangga. Dengan tahu berterima kasih ini pula sebagai tanda ia bersyukur pada Allah SWT atas nikmat tersebut.
Sikap terima kasih atas pemberian suaminya ditunjukkan pula dengan tidak meminta sesuatu yang diluar kemampuan suami. Sehingga suamipun tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama. Kalau sang istri kerap merongrong suami untuk meminta “Ini dan itu”, maka boleh jadi suami melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama. Sehingga suami berbuat korupsi untuk memenuhi keinginan istrinya atau melakukan hal lain yang dilarang dalam Islam.
Disinilah pentingnya sang istri solihah harus berterima kasih atas pemberian suaminya. Rosululloh SAW bersabda,” Allah tidak akan melihat istri yang tidak tahu berterima kasih atas kebaikan suaminya. Padahal ia selalu memerlukannya.” (HR.Nasa’i).

Leave a Comment more...

Keluarga Sakinah dan Tantangan Globalisasi

Posted by kua kragan in Mar 21, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga


Abstract

The following articledescribes the impactof globalization toward the life of family.The description of this departsfromthe existence ofhappy (sakinah) family, the globalization challengtoward the life of family, and the alternative solution regardingthe negative effect of globalization toward the existence of family.The negative effects for instance moral decadence, life style, the disharmony relationship, the desacralization of family, permissive. Hence, either according to Islam or western stated that to build the happy family need and should refer to moral, spiritual, and religion values as the basis of family life.

I. Pendahuluan

Keluarga merupakan fondasi bagi berkembang majunya masyarakat. Keluarga membutuhkan perhatian yang serius agar selalu eksis kapan dan di manapun. Perhatian ini dimulai sejak pra pembentukan lembaga perkawinan sampai kepada memfungsikan keluarga sebagai dinamisator dalam kehidupan anggotanya terutama anak-anak, sehingga betul-betul menjadi tiang penyangga masyarakat.

Secara tegas dapat digarisbawahi bahwa tujuan keluarga ada yang bersifat intern yaitu kebahagian dan kesejahteraan hidup keluarga itu sendiri, ada tujuan ekstern atau tujuan yang lebih jauh yaitu untuk mewujudkan generasi atau masyarakat muslim yang maju dalam berbagai seginya atas dasar tuntunan agama. Keluarga merupakan sumber dari umat, dan jika keluarga merupakan sumber dari sumber-sumber umat, maka perkawinan adalah pokok keluarga, dengannya umat ada dan berkembang.[1]

Institusi keluarga yang merupakan lembaga terkecil dalam sebuah masyarakat selalu dibutuhkan dimana dan kapan pun, termasuk di era globalisasi seperti sekarang ini. Sebagai institusi yang terdiri dari individu-individu sebagai anggota, keluarga harus berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Era globalisasi yang melahirkan banyak kreasi berbagai fasilitas untuk mempermudah memenuhi kebutuhan manusia nampaknya membawa dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan keluarga, baik dampak positif maupun negatif. Bagaimana suatu keluarga akan mampu menyesuaikan diri dan mempertahankan eksistensinya di era global ini?

Tulisan ini akan membahas dampak-dampak globalisasi dan segala produknya terhadap kehidupan rumah tangga atau keluarga; dimulai dengan membahas eksistensi keluarga sakinah, ancaman dan tantangan globalisasi kehidupan keluarga serta alternatif solusi efek negatif globalisasi terhadap kelangsungan kehidupan keluarga.

II. Pilar-Pilar Keluarga Sakinah

Kata sakinah diambil dari akar kata yang terdiri atas huruf sin, kaf, dan nun yang mengandung makna ketenangan, atau anonim dari guncang dan gerak. Berbagai bentuk kata yang terdiri atas ketiga huruf tersebut semuanya bermuara pada makna di atas. Rumah dinamai maskan karena ia merupakan tempat untuk meraih ketenangan setelah sebelumnya sang penghuni bergerak (beraktivitas di luar).[2] Sedangkan menurut Quraish Shihab, sakinah terambil dari akar kata sakana yang berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergejolak.[3]

Penggunaan kata sakinah dalam pembahasan keluarga pada dasarnya diambil dari Al-Quran surat al-Rum ayat 21 ”litaskunu ilaiha” yang artinya bahwa Allah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain. Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.[4]

Kata sakinah yang digunakan dalam mensifati kata ”keluarga” merupakan tata nilai yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak dalam membangun tatanan keluarga yang dapat memberikan kenyamanan dunia sekaligus memberikan jaminan keselamatan akhirat. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi setiap anggota keluarganya. Ia merupakan tempat kembali kemana pun mereka pergi. Mereka merasa nyaman di dalamnya, dan penuh percaya diri ketika berinteraksi dengan keluarga yang lainnya dalam masyarakat. Dalam istilah sosiologi ini disebut dengan unit terkecil dari suatu masyarakat.[5]

Keluarga sakinah tidak terjadi begitu saja, akan tetapi ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh yang memerlukan perjuangan dan butuh waktu dan pengorbanan. Keluarga sakinah merupakan subsistem dari sistem sosial (social system) menurut Al-Quran, dan bukan “bangunan” yang berdiri di atas lahan yang kosong. Pembangunan keluarga sakinah juga tidak semudah membalik telapak tangan, namun sebuah perjuangan yang memerlukan kobaran dan kesadaran yang cukup tinggi. Namun demikian semua langkah untuk membangunnya merupakan sesuatu yang dapat diusahakan. Meskipun kondisi suatu keluarga cukup seragam, akan tetapi ada langkah-langkah standar yang dapat ditempuh untuk membangun sebuah bahtera rumah tangga yang indah, keluarga sakinah.

Nick Stinnet dan John Defrain (1987) dalam studi yang berjudul “The National Study on Family Strength” mengemukakan enam langkah membangun sebuah keluarga sakinah yaitu:

1. Menciptakan kehidupam beragama dalam keluarga. Hal ini diperlukan karena di dalam agama terdapat norma-norma dan nilai moral atau etika kehidupan. Penelitan yang dilakukan oleh kedua profesor di atas menyimpulkan bahwa keluarga yang di dalamnya tidak ditopang dengan nilai-nilai religius, atau komitmen agamanya lemah, atau bahkan tidak mempunyai komitmen agama sama sekali, mempunyai resiko empat kali lipat untuk tidak menjadi keluarga bahagaia atau sakinah. Bahkan, berakhir dengan broken home, perceraian, perpisahan tidak ada kesetiaan, kecanduan alkohol dan lain sebagainya.

2. Meluangkan waktu yang cukup untuk bersama keluarga. Kebersamaan ini bisa diisi dengan rekreasi. Suasana kebersamaan diciptakan untuk maintenance (pemeliharaan) keluarga. Ada kalanya suami meluangkan waktu hanya untuk sang istri tanpa kehadiran anak-anak.

3. Interaksi sesama anggota keluarga harus menciptakan hubungan yang baik antaranggota keluarga, harus ada komunikasi yang baik, demokratis dan timbal balik.

4. Menciptakan hubungan yang baik sesama anggota keluarga dengan saling menghargai. Seorang anak bisa menghargai sikap ayahnya. Begitu juga seorang ayah menghargai prestasi atau sikap anak-anaknya; seorang istri menghargai sikap suami dan sebaliknya, suami menghargai istri.

5. Persatuan dalam keluarga yang memperkuat bangunan rumah tangga. Hal ini diempuh dengan sesegera mungkin menyelesaikan masalah sekecil apapun yang mulai timbul dalam kehidupan keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil jangan sampai longgar, karena kelonggaran hubungan akan mengakibatkan kerapuhan hubungan.

6. Jika terjadi krisis atau benturan dalam keluarga, maka prioritas utama adalah keutuhan rumah tangga. Rumah tangga harus dipertahankan sekuat mungkin. Hal ini dilakukan dengan menghadapi benturan yang ada dengan kepala dingin dan tidak emosional agar dapat mencari jalan keluar yang dapat diterima semua pihak. Jangan terlalu gampang mencari jalan pintas dengan memutuskan untuk bercerai.[6]6

Langkah-langkah yang dikemukakan oleh Nick Stinnet dan John Defrain di atas lebih menitikberatkan pada sudut pandang psikologis dan sosiologis. Ada pendapat lain yang menitikberatkan pada aspek agama (Islam), yaitu pendapat Said Agil Husin al-Munawwar, yang menyatakan bahwa simpul-simpul yang dapat mengantar atau menjadi prasyarat tegaknya keluarga sakinah adalah:

1. Dalam keluarga ada harus mahabbah[7], mawaddah[8] dan rahmah[9];

2. Hubungan suami isteri harus didasari oleh saling membutuhkan, seperti pakaian dan pemakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna);

3. Dalam pergaulan suami istri, mereka harus memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut, tidak asal benar dan hak (wa’asyiruhinna bil ma’ruf), besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nalai ma’ruf;

4. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada lima, yaitu: pertama, memliliki kecenderungan kepada agama; kedua, mudah menghormati yang tua dan menyayangi yang muda; ketiga, sederhana dalam belanja; keempat, santun dalam bergaul; dan kelima, selalu introspeksi;

5. Menurut hadis Nabi yang lain disebutkan bahwa ada empat hal yang menjadi pilar keluarga sakinah, yaitu: peratama, suami istri yang setia (shalih dan shalihah) kepada pasangannya; kedua, anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya; ketiga, lingkungan sosial yang sehat dan harmonis; keempat, murah dan mudah rezekinya.[10]

Pendapat Said Agil Husin di atas berpijak pada ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran dan hadis Nabi. Ada pendapat lain yang hampir serupa, namun hanya berpijak pada ayat-ayat al-Quran sebagai dasar pembentukan keluarga sakinah, yaitu pendapat Mantep Miharso yang menyatakan bahwa untuk merumuskan hakekat keluarga di dalam Al-Quran- yang sebenarnya mengacu pada pembentukan keluarga sakinah – dapat dilihat dari unsurnya yang terdapat dalam pemaknaan term-term di dalam Al-Quran, yaitu: Pertama, kesatuan agama atau aqidah, terambil dari makna yang terkandung dalam kata “al-’Al”; Kedua, kemampuan atau kesanggupan mewujudkan ketenteraman, baik secara ekonomis, biologis maupun psikologis, terambil dari makna yang terkandung dalam kata al-Ahl. Kehidupan keluarga sakinah tidak akan tercipta oleh orang yang tidak memiliki kemampuan itu. Ketiga, pergaulan yang baik (al-mu’asyarah bi al-ma’ruf) atas dasar cinta dan kasih sayang diantara anggota keluarga, terambil dari makna kata yang terkandung dalam kata al-‘Asyirah. Pergaulan yang baik ini berupa komunikasi dan interaksi perbuatan maupun sikap antaranggota keluarga merupakan perangkat vital dalam mewujudkan ketenteraman, kedamaian dan kesejahteraan. Keempat, mempunyai kekuatan yang kokoh guna melindungi anggota keluarga, dan menjadi tempat bersandar bagi mereka dan bagi kekuatan masyarakat, terambil dari makna yang terkandung dalam kata raht, rukn dan fashilah. Suasana yang nyaman di dalam lingkungan keluarga memungkinkan tumbuh kembangnya generasi yang terdidik dan memiliki akhlak yang baik sebagai penyangga kekuatan bangsa. Dengan demikian rumah tangga yang diharapkan adalah rumah tangga yang digambarkan hadis nabi bagaikan surga “rumahku surgaku”.

Kelima, hubungan kekerabatan yang baik dengan keluarga dekatnya, kerabatnya, terambil dari makna yang terkandung dalam kata dzaway al-qurba atau dza al-qurba atau dza al-muqarabah atau dza al-qurba. Keluarga tidak dapat hidup sendiri, maka jalinan yang baik harus diwujudkan dengan keluarga dekat maupun lingkungan sosialnya (termasuk tetangga) sebagai unsur eksternal di dalam mewujudkan ketenangan. Keenam, proses pembentukannya melalui pernikahan yang sah mengikuti aturan agama, yakni memenuhi syarat dan rukunnya, terambil dari makna yang terkandung dalam kata zauj dan nikah. Menurut al-Quran keluarga harus dibangun melalui perkawinan atau pernikahan sebagai aqad (perjanjian luhur) yang dengannya akan menimbulkan hak dan tanggung jawab suami istri, orang tua-anak. Ketujuh, di dalam keluarga terdapat pembagian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan status dan fungsinya sebagai anggota  keluarga, yakni sebagai suami, istri, orang tua dan anak. Masing-masing status di dalam keanggotaan keluarga mempunyai konsekuensi fungsi dan tanggung jawab ini. Oleh karena itu Al-Quran menyebutkan berbeda-beda yakni dengan kata ab, umm, dzurriyah, walad dan bin atau bint. Dari makna yang terkandung dalam kata-kata ini pula berimplikasi terhadap anak (kewajiban anak kepada orang tua), hak anak terhadap orang tua (kewajiban orang tua kepada anak)

BKKBN menggunakan istilah sejahtera untuk menyebut keluarga sakinah. Dalam hala ini BKKBN mengklasifikasikan keluarga sejahtera (sakinah) kedalam beberapa tingkatan yaitu:

1. Keluarga Pra Sejahtera (Pra KS), yaitu keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs) secara minimal, seperti kebutuhan spiritual, pangan, sandang papan dan kesehatan.

2. Keluarga Sejahtera I (KS I), yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya (socio psychological needs), seperti kebutuhan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.

3. Keluarga Sejahtera II (KS II), yaitu keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kebutuhan sosial-psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya (developmental needs) seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.

4. Keluarga Sejahtera III (KS III), yaitu kelurga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial-psikologis dan pengembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat, seperti sumbangan materi, dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

5. Keluarga Sejahtera III Plus (KS III Plus), yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangan serta telah dapat memberikan sumbangan yang teratur dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.[11]

Dari klasifikasi dan keriteria BKKBN dapat disimpulkan bahwa dalam peng-kategorian keluarga sejahtera atau sakinah BKKBN lebih memprioritaskan aspek materi daripada aspek immateri. Hal ini berbeda dengan konsep yang disampaikan oleh Nick Stinnet dan John Defrain, Said Aqil Husin al-Munawwar dan Mantep Moharso yang lebih menekankan aspek imateri. Menurut dalam hemat penulis, kedua aspek tersebut (materi dan imateri) mempunyai kedudukan yang sama yaitu keduanya menduduki posisi yang pokok, dan keduanya harus sama-sama dipenuhi demi terciptanya keluarga sakinah atau sejahtera,

Sejauh apapun dan sedalam apapun pengetahuan dan pemahaman kita tentang konsep keluarga sakinah tidak akan menjadi jaminan bahwa kita akan dapat melaksanakannya dalam bahtera rumah tangga. Karena kehidupan keluarga merupakan suatu yang eksperimental dan empirik yang tidak hanya ada dalam dunia teori namun harus terjun langsung dan mempraktekkannya yang terkadang pada kenyataannya jauh dari apa yang ada dalam teori. Selain itu kehidupan keluarga berjalan secara dinamis mengikuti irama denyut nadi perkembangan zaman dan faktor sosio-kultural dalam kehidupan masyarakat sangat berpengaruh dalam perjalanan kehidupan keluarga.

III. Globalisasi: antara Ancaman dan Tantangan

Kata globalisasi mulai sering digunakan mulai tahun 1980-an. Pada masa itu kata globalisasi menyebar begitu cepat menjadi kosa kata standar di segala bidang, di dunia akademik, dunia jurnalistik, plolitik, bisnis, periklanan, dunia hiburan dan sebagainya.[12] Globalisasi berasal dari kata Globalisme, yakni paham kebijakan nasional yang memperlakukan seluruh dunia sebagai lingkungan yang pantas untuk pengaruh politik.[13] Selama proses tersebut berjalan, tentunya penuh dinamika yang menuntut setiap negara menata Rumah Tangganya seideal mungkin. Atas nama “tatanan dunia baru”[14] itulah globalisasi dianggap menyatukan dunia dalam satu bingkai dan menghapuskan batas-batas geografis yang memisahkan antara negara satu dengan lainnya. Tentunya didukung adanya kebebasan mengakses informasi melalui berbagai media informasi dan telekomunikasi, internet khususnya.

Menurut John Tom Linson dalam sebuah tulisan “Cultural Globalization: Placing and Displacing the West” sebagaimana dikutip oleh Amer Al-Roubaie mengintisarikan globalisasi sebagai berikut:

“Proses hubungan yang rumit antarmasyarakat yang luas dunia, antarbudaya, institusi dan individual. Globaliasai merupakan proses sosial yang mempersingkat waktu dan jarak dari pengurungan waktu yang diambil baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi dengan dipersingkatnya jarak dan waktu, dunia dilihat seakan-akan semakin mengecil dalam beberapa aspek, yang membuat hubungan manusia antara yang satu dengan yang lain semakin dekat.”[15]

Globalisasai terjadi pada setiap negara, tidak ada satu organisai atau satu negara pun yang mampu mengendalikannya. Simbol dari sistem global adalah luasnya jaringan.[16] Akbar S. Ahmed dan Hastings memberi batasan bahwa globalisasi “pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat di dalam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh menjadi hal yang bisa dijangkau dengan mudah.[17]

Teori globalisasi menandai dan menguji munculnya suatu sistem budaya global terjadi karena berbagai perkembangan sosial dan budaya, seperti adanya sistem satelit dunia, penggalian gaya hidup kosmopolitan, munculnya pola konsumsi dan konsumerisme global, munculnya even-even olahraga internasional, penyebaran dunia pariwisata, menurunnya kedaulatan negara bangsa, timbulnya sistem militer global (baik dalam bentuk peace keeping force, pasukan multinasional maupun pakta pertahanan regional dan lain-lain), pengakuan tentang terjadinya krisis-krisis lingkungan dunia, berkembangnya problem-problem kesehatan berskala dunia (seperti AIDS), munculnya lembaga-lembaga politik dunia (seperti PBB), munculnya gerakan-gerakan politik global, perluasan konsep demokrasi dan hak-hak asasi manusia dan interaksi rumit antara berbagai agama dunia.[18]

Bahkan lebih dari sekedar proses-proses di atas, globalisasi menyangkut kesadaran bahwa dunia ini adalah satu tempat milik bersama umat manusia. Karena itu, globalisasi yang didefinisikan sebagai kesadaran yang tumbuh pada tingkat global bahwa dunia ini adalah sebuah lingkungan yang terbangun secara berkelanjutan, atau sebagai suatu proses sosial di mana hambatan-hambatan geografis berkaitan dengan pengaturan-pengaturan sosial dan budaya semakin surut.[19]

Menurut Qodri Azizy, istilah ”globalisasi” dapat berarti juga alat dan dapat pula berarti ideologi. Sebagai alat karena merupakan wujud keberhasilan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama sekali di bidang komunikasi. Sebagai alat, globalisasi sangat netral. Ia berarti dan seklaigus mengandung hal-hal posistif, ketika dimanfaatkan untuk tujuan yang baik. Sebaliknya, ia berakibat negatif, ketika hanyut ke dalam hal-hal yang negatif. Sedangkan sebagai ideologi sudah mempunyai arti tersendiri dan netralitasnya sangat berkurang. Oleh karena itu, tidak aneh kalau kemudian tidak sedikit yang menolaknya. Sebab tidak sedikit akan terjadi benturan nilai, antara nilai yang dianggap sebagai sebuah ideologi globalisasi dan nilai-nilai agama, termasuk agama Islam. Baik sebagai alat maupun sebagai ideologi, globalisasi merupakan ancaman dan sekaligus tantangan.

Pertama, sebagai ancaman. Dengan alat komunikasi seperti Hand Phone, TV, para bola, telepon, VCD, DVD dan internet, kita dapat berhubungan dengan dunia luar. Dengan para bola atau internet, kita dapat menyaksikan hiburan porno dari kamar tidur. Kita dapat terpengaruh oleh segala macam bentuk iklan yang sangat konsumtif. Kedua, tantangan. Di pihak lain, jika globalisasi itu memberi pengaruh hal-hal, nilai dan praktik yang positif, maka seharusnya menjadi tantangan bagi umat manusia untuk mampu menyerapnya, terutama sekali hal-hal yang tidak mengalami benturan dengan budaya lokal atau nasional, terutama sekali nilai agama.

Dari gambaran di atas dapat dipahami bahwa globalisasi bukanlah sekedar konsep sosiologi hubungan internasional (International Relations) dalam pengertian tradisional, atau interdepedensi ekonomi (Global economic interdepedence), atau konvergensi negara-negara bangsa (convergence of nation states) menjadi suatu masyarakat industri, melainkan proses strukturisasi dunia sebagai suatu keseluruhan (stucturation of the world as whole) yang menghadirkan dua kecenderungan yang saling bertentangan sekaligus, yaitu proses penyeragaman (homogenization) dan pemberagaman (differenciation), sehingga membuat interaksi yang rumit antara lokalisme dan globalisme.

Memang, Globalisasi merupakan proses rumit yang melibatkan semua unsur dari kehidupan manusia seperti aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, agama, bahasa dan teknologi. Hingga saat ini globalisasi tetap proses rumit bukan hanya karena definisinya yang tidak jelas, tetapi juga karena dampak yang ditimbulkannya. Seperti yang dikatakan Giddens: “Globalisasi merupakan proses rumit dan merupakan proses tunggal. Proses-proses rumit itu juga berlangsung dalam model berlainan dan berlawanan”[20]

Di era globalisasi ini, budaya yang ada didominasi oleh budaya Barat, khususnya budaya Amerika yang sarat dengan konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Globalisasi yang melanda dunia ditandai dengan hegemonisasi food (makanan), fun (hiburan), fashion (mode), dan thoght (pemikiran). Budaya-budaya ini terkadang dipaksakan masuk ke dalam budaya lain, sehingga tidak jarang terjadi “benturan-benturan” kebudayaan.

Pada kenyataannya, globalisasi semakin mengarah kepada satu bentuk “imperialisme budaya” (culture imperialism) Barat terhadap budaya-budaya lain. Dalam sebuah makalah yang berjudul Haritage, Culture and Globalization Amer al-Roubaie, seorang pakar globalisasi di International Institute of Islamic Thuoght and Civilization, International Islamic University) Mlaysia (ISTAC-IIUM) mencatat:

“Telah dipahami secara luas bahwa gelombang trend budaya global dewasa ini sebagian besar merupakan produk Barat, menyebar ke seluruh dunia lewat keunggulan teknologi elektronik dan berbagai bentuk media dan sistem komunikasi. Istilah-istilah seperti penjajahn budaya (culture imperialism), penggusuran kultural (cultural cleansing), ketergantungan budaya (cultural dependency), dan penjajahan elektronik (electronic colonialism) digunakan untuk menjelaskan kebudayaan global baru serta berbagai akibatnya terhadap masyarakat non-Barat”[21]

Rekayasa informasi global terus berlangsung melalui media-media massa global. Masyarakat global diberi ketidakberdayaan (disempowerment) dalam berbagai hal menghadapi hegemoni informasi. Kepentingan-kepentingan Barat, terutama Amerika dapat terwujud.

Memang benar adanya slogan “Barang siapa yang mampu menguasai informasi dialah yang akan menguasai dunia,” sehingga ia bisa membuat keputusan apapun. Seperti ungkapan salah seorang tokoh globalisasi Amerika Serikat “Kalau perjanjian diperlukan, kami akan melakukannya. Jika penyerahan di butuhkan, kami akan menyerahkannya, jika informasi di butuhkan, kami akan memberikannya dan jika kekuatan di butuhkan demi stabilitas keamanan kami, kekuatan akan kami gunakan”.[22]

Pada dasarnya konsep globalisasi yang dirancang oleh Barat adalah upaya untuk mengkonsolidasikan segala kekuatan; ekonomi, politik, militer dan pertahanan dalam satu sentral, yaitu Amerika, Eropa, Jepang dan Cina.[23] Dan jika ditelusuri lebih dalam, konsep globalisasi ini sebenarnya telah dirancang dan berjalan cukup lama. Fenomena ini telah dimulai menjelang berakhirnya Perang Dunia II di mana telah terjadi suatu titik balik dalam masalah-masalah global. AS sebagai kekuatan yang dominan mempersiapkan dirinya untuk melangkah pada suatu sistem internasional yang bertujuan membawa bangsa-bangsa di dunia ke dalam suatu sistem dengan aturan-aturan dan norma-norma yang disepakati bersama bagi keamanan bangsa collective scurity).[24]

Dengan berbagai kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi, kita dapat merasakan betapa era sekarang merupakan era kesejagatan yang tak mengenal batas ruang. Sebuah buku yang berjudul One World Ready or Not: The Manic Logic of Global Capitalism, karya William Greider tahun 1997 yang lalu telah mengisyaratkan bahwa saat ini dunia sudah masuk pada masa di mana tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari yang lain (there is no place to hide from the other), masa yang ditandai oleh semangat kapitalisme dengan meningkatnya industrialisasi, informasi dan transformasi. Disamping itu zaman ini juga memaksa kita untuk bertemu satu dengan lainnya dengan terjadinya cross cultural context. Segala bentuk prilaku manusia dapat dengan mudah dinilai orang lain, saling mempengaruhi dan bahkan saling bertukar posisi secara bergantian. Semua aktifitas manusia mempunyai jaringan satu sama lain misalnya jaringan buruh, perdagangan, pendidikan dan kebudayaan.

Adalah Richard Hibart, yang mengatakan bahwa Globalisasi merupakan sesuatu yang sudah menjadi tradisi kita atas dunia ketiga, dan untuk beberapa kurun waktu kita menamainya dengan Imperialisme.[25] Era ini juga ditandai oleh dua proses sosial yang paradoks yaitu proses homologisasi dan proses paralogisasi dengan semakin menguatnya kesatuan (increasing of unity) disatu pihak namun dipihak lain juga terjadinya penguatan perbedaan (increasing of diversity). Hal itu akan berdampak pada kehidupan keluarga agama dimana orientasi agama yang sebelumnya datang dari sumber yang sangat terbatas, orang tua, keluarga dan lingkungan kita saja sekarang datang dari beragam sumber yang tak terbatas melalui media telekomunikasi dan transformasi yang semakin canggih. Dengan kecangihan sains dan teknologi, manusia bahkan dapat menciptakan jalan kematiannya sendiri yang bisa dipilih. Disamping itu manusia semakin dimanjakan dengan produk industrialisasi yang bisa mengisolasikan dirinya dari orang lain karena segala kebutuhannya telah terpenuhi. Manusia menjadi sangat konsumtif dan disetir oleh semagat kapitalisme pasar. Ketergantungan terhadap produk baru sangat besar untuk hanya takut dikatakan sebagi orang yang tidak gaul dan kuno. Semua kebutuhan materi telah tercukupi oleh kemudahan-kemudahan yang ditawarkan globalisasi. Yang lebih parah, terjadinya pergeseran ukuran kesuksesan yaitu hanya dinilai dengan kesuksesan ekonomi dan kekuasaan.

Tentu saja pertemuan dengan berbagai macam sumber dan informasi baik tentang politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan bahkan sumber tentang agama akan mempengaruhi kehidupan dalam rumah tangga atau keluarga. Orang beragama bisa saja menutup diri dari kebiasaan globalisasi dengan mengisolasi diri dari orang lain, namun juga bisa membuka diri dan mengambil keuntungan darinya. Agama yang merupakan salah satu pilar pokok yang menompang kehidupan keluarga, yang pada mulanya sebagai satu-satunya sistem yang paling tinggi kemudian berubah menjadi salah satu bagian dari sistem-sistem lain yang ada. Pada mulanya sistem hukum yang ada misalnya diambil dari agama namun saat ini dunia sekuler menawarkan sistem hukumnya sendiri disamping sistem-sistem lainnya. Agama yang dulunya menjadi super-sistem kemudian menjadi sub-sistem, sama dengan sistem-sistem yang lainnya.

IV. Dampak Globalisasi terhadap Kehidupan Keluarga

Problem paling berat membangun keluarga sakinah di era global ini adalah dalam menghadapi penyakit “manusia modern”. Di era modern seperti sekarang ini tantangan berbagai godaan menyelusup dan menyusup ke dalam kehidupan rumah tangga melalui teknologi komunikasi dan informasi yang cukup canggih. Sejak kecil, anak-anak tanpa disadari telah dijejali dengan berbagai kebudayaan yang menyimpang dari norma-norma sosial dan agama melalui media ini. Hal ini menjadikan peran pendidikan dalam keluarga tidak efektif lagi.

Menurut sebuah penelitian yang dialakukan oleh Zakiah Drajat, perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar, dan 6 % sisanya oleh berbagai stimulus campuran. Dilihat dari perspektif ini, nasihat orang tua yang hanya memiliki efektivitas 11%, dan hanya contoh teladan orang tua saja yang memiliki efektivitas tinggi.[26]

Berangkat dari sini maka bisa dibayangkan, dengan kecanggihan alat komunikasi yang canggih sebagai produk modern kebudayaan dari berbagai manca daerah dapat dengan mudah masuk ke dalam aliran darah dan denyut nadi kebudayaan lokal yang tidak jarang akan menggeser nilai-nilai moral dan agama yang telah tertanam di dalamnya. Budaya global yang didominasi oleh budaya Barat akan diserap dengan mudah oleh masyarakat dunia. Budaya dalam suatu masyarakat akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter keluarga. Pengaruh ini meliputi perilaku, gaya hidup dan aspek-aspek lain. Budaya Barat sangat menjunjung tinggi kebebasan pribadi untuk berekspresi, dan ini tentunya sangat berbeda dengan masyarakat Timur yang masih menjunjung nilai-nilai moral.[27]

Bagaimana pun juga produk suatu budaya dengan ciri “materialistiknya dapat menyebabkan pergolakan dan konflik sosial di masyarakat” non-Barat, yang mempunyai warisan budaya dan kehidupan religius yang berbeda-beda. Kemajuan di bidang komunikasi telah memungkinkan banyak ide-ide baru, ideologi, seni, bahasa dan beragam ilmu pengetahuan untuk melintasi seluruh penjuru dunia. Proses globalisasi juga terdiri dari faktor-faktor yang menjadi ancaman bagi satu kebudayaan asli di berbagai tempat di dunia ini. Dengan kata lain proses globalisasi juga menciptakan bentuk baru aliansi kebudayaan unik yang terdapat pada suatu bangsa atau etnik tertentu.[28]

Globalisasi telah meminimalisir perlindungan terhadap budaya lokal melalui proses liberalisasi (swastanisasi) pasar dan perdagangan luas di banyak negara berkembang. Distribusi luas produk budaya barat seperti film, literatur, gaya hidup, nilai-nilai baru melalui media elektronik, siaran satelit, internet, koran-koran dan majalah telah mencemari budaya lokal. Bukan hanya itu, dengan tayangan dalam media-media ini juga tidak menutup kemungkinan akan meningkatkan jumlah kekerasan dalam rumah tangga, kenakalan remaja, diskriminasi sosial dan broken home. Diskriminasi sosial inilah yang biasanya akan menimbulkan kriminalitas dalam masyarakat.[29]

Kehidupan keluarga yang merupakan bagian dari masyarakat tidak terlepas dari “serangan” budaya global melalui media-media ini. Gaya hidup, relasi-relasi terlebih pola pikir masyarakat yang juga anggota keluarga sedikit-demi sedikit akan berubah mengikuti aneka kebudayaan yang masuk. Inilah yang menjadi tantangan kehidupan keluarga sakinah di era globalisasi ini.

Setidaknya ada dua hal yang sering terjadi akibat kehidupan modern di era global ini, yaitu, Pertama, konsentrasi anggota keluarga, khususnya suami dan istri hanya terfokus untuk mencari kesenangan dalam kehidupan perkawinan dari pada berpikir tentang tanggung jawab. Beberapa pasangan menikah apabila mereka sepakat untuk mencari kesenangan dan kenikmatan saja. Jadi apabila kehidupan perkawinan itu tidak dapat lagi memberikan lagi apa mereka cari, maka mereka akan memilih jalan mereka sendiri-sendiri. Hal ini menimbulkan erosi kesakralan lembaga perkawinan, sehingga perceraian sebagai konsekuensinya menjadi suatu hal yang biasa. Anak-anak siapa saja yang lahir dari pasangan seperti itu, yaitu mengakhirinya dengan perceraian, hanya sedikit lebih beruntung dari pada anak-anak yatim piatu, walaupun mereka masih memiliki orang tua.

Kedua, putusnya sistem keluarga besar yang utuh. Hal ini dapat ditelusuri dari adanya gejala-gejala meningkatnya jumlah orang tua bahkan kekek nenek lanjut usia yang dikirim ke panti jompo yang terpisah dari kehidupan keluarga mereka sendiri. Padahal dalam sistem keluarga besar, kekek nenek pasti ada untuk memperhatikan cucu-cucu mereka. Tetapi dalam budaya masyarakat modern, terlebih di barat tempat mereka bukan lagi di tengah-tengah keluarga.

Saat ini, fokus dari perhatian orang tua tidak lagi tertuju pada rumah, walupun dengan alasan-alasan yang berbeda. Dulu, seorang ibu senantiasa berada di rumah untuk dapat tetap memperhatikan anak-anak. Tetapi sekarang, dengan kedua orang tua yang bekerja di luar rumah, anak-anak hanya dapat menemui mereka di malam hari ketika keduanya sudah sangat lelah untuk memberikan perhatian yang cukup kepada mereka, ataupun mereka dapat bersama-sama kembali di penghujung minggu, di saat mereka lebih memikirkan rekreasi.

Kalau kita menilik di Negara-negara maju seperti di Barat, anak-anak sebenarnya telah kehilangan sosok seorang ibu, karena seperti ayahnya, ibunya pun lebih memilih bekerja di kantor, sama halnya di mana mereka harus kehilangan sosok kakek neneknya. Karena mereka pun telah dikucilkan di panti-panti jompo. Anak-anak dari keluarga seperti ini biasanya tidak memiliki emosi yang seimbang, sehingga mereka bisa saja berpikir pada sampai pada satu titik tidak ada gunanya lagi melanjutkan hidup.[30]

Selain merebaknya aksi bunuh diri di kalangan anak-anak, kekerasan dalam rumah tangga merupakan praktik dan pengalaman yang terus berkembang, baik penganiayaan fisik, psikis, seks maupun yang bertujuan menunjukkan kekuatan dan mengendalikan orang lain.

Era global yang identik dengan modernisasi dan industrialisasi memang membawa dampak yang cukup signifikan terhadap cara hidup masyarakat, termasuk dalam kehidupan keluarga. menurut Didin Hafiduddin, modernisasi dan indutrialisasi telah membawa perubahan-perubahan nilai kehidupan yang dapat dari hal-hal sebagai berikut:

1. pola hidup masyarakat dari sosial religius cenderung ke arah individu materialistik;

2. pola hidup sederhana dan produktif cenderung ke arah konsumtif. Struktur keluarga extended family cenderung ke arah nuclear family, bahkan sampai single parent family;

3. hubungan kekeluargaan (hubungan emosional ayah-ibu-anak) yang semula erat dan ketat (family right), cenderung menjadi longgar (family loose);

4. nilai-nilai yang mendasar agama cenderung berubah ke arah sekuler dan serba membolehkan (premisive society);

5. lembaga perkawinan (keluarga) mulai diragukan dan masyarakat cenderung memilih hidup bersama tanpa nikah;

6. ambisi karir dan materi sedemikian rupa sehingga dapat mengganggu interpersonal, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.[31]

Gaya hidup Barat yang menggemborkan kesetaraan gender dan pembelaan hak-hak wanita akan berpengaruh pada gaya hidup kaum wanita sebagai ibu rumah tangga dengan mencoba berkarir ganda di luar rumah. Bukan berarti karir ganda dilarang, namun tidak sedikit keluarga karir ganda ini mengakibatkan ketegangan dan krisis dalam keluarga dan tidak jarang yang berujung pada perceraian bahkan broken home.

Ambisi karir ini mendorong istri untuk berkarir di luar yang akan mengakibatkan: pertama, suami sering mengeluh bahwa sejak istri turut bekerja dan berpenghasilan, dirasakan wibawa dirinya terhadap istri menurun karena istri telah belajar mandiri dan mengurangi ketergantungannya kepada suami; kedua, bagi istri yang karir dan berpenghasilan lebih tinggi dari pada penghasilan suami, dapat mengakibatkan rasa rendah diri pada suami dan menimbulkan rasa cemburu, ketiga, peran sebagai kepala rumah tangga dan sebagai pencari nafkah dapat berbalik manakala suami tidak bekerja. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan rasa rendah diri, harga diri menurun wibawa menurun di dahadapan istri dan anak-anak berkurang, dan kendali kepemimpinan keluarga berpindah kepada istri.[32]

Bukan hanya itu, pergaulan bebas, seks bebas, aborsi, kenakalan remaja dan lain sebagainya akan dengan mudah masuk ke dalam kehidupan keluarga dan akan mempengaruhi tradisi dan ketenteraman serta keutuhan kehidupan rumah tangga. Dalam pandangan Barat, untuk memenuhi kebutuhan seksual tidak harus melalui perkawinan. Bahkan di Amerika banyak kaum cendikiawan modern menentang lembaga seksual dan perkawinan menurut agama. Mereka mendukung model perkawinan percobaan (trial marriage) diberitakan dalam majalah Time edisi 14 April 1967 hal. 10 dan 12, sebagaimana dikutip Hammudah Abd al-‘Athi terdapat tiga bentuk perkawinan. Pertama, kawin percobaan selama satu tahun. Kedua, kawin bersyarat (term marriage) yaitu kawin dikontrak dalam jangka waktu tertentu. Sehabis jangka waktu itu, keduanya bisa menentukan untuk hidup bebas kembali atau mengukuhkan perkawinan. Ketiga, hidup bersama tanpa nikah (companionate marriage) dengan kesepakatan tanpa anak.[33]

Model perkawinan yang demikian menyebabkan struktur keluarga yang dibangun menjadi tidak teratur dan tidak jelas. Masalah-masalah kehidupan keluarga yang semakin kompleks banyak dihadapi oleh keluarga semacam ini di akhir abad 20. Ketidakjelasan struktur keluarga dinyatakan pula oleh Graham Allan dari University of Southamton: “Di Barat, demografi keluarga tengah mengalami pergeseran. Batasan keluarga dan kewajiban tiap anggotanya kian longgar. Bentuk ideal keluarga dan hubungan-hubungan yang ada di dalamnya kian tidak jelas.[34]

Dengan kelonggaran kewajiban terhadap keluarga memungkinkan rasa tanggung jawab pun longgar, dan jika tanggung jawab longgar, maka keutuhan keluarga semakin rentan terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi.

Kelonggaran dan lemahnya kaidah hukum yang terkait dengan keluarga secara otomatis akan menjadikan keluarga hanya sebagai tempat singgah. Menurut Graham, di Barat, satu-satunya elemen yang masih bertahan mungkin hanya kedudukannya sebagai institusi privat. Sehingga sekarang berkembang pesat teori-teori privatisasi keluarga yang sering dikaitkan dengan industrialisasi.[35]

Dampak lain yang akan ditimbulkan oleh modernisasi global adalah meregangnya relasi antaranggota keluarga dan relasi keluarga dengan masyarakat. Anggota keluarga cenderung individualis. Kerenggangan antaranggota keluarga ini diakibatkan kurangnya komunikasi di antara mereka. Suatu penelitian di lakukan menunjukkan bahwa dalam belasan tahun terakhir ini frekuensi percakapan dalam keluarga menurun seratus persen.[36] Hal ini mengakibatkan tingginya angka perceraian dan broken home.

Bukan hanya itu, gaya hidup di era global ini mengakibatkan mengikisnya kesakralan perkawinan sehingga perkawinan hanya dilihat dari sisi relasi fungsional. Hal ini menimbulkan paham yang memandang tidak pentingnya pernikahan dan memilih hidup bersama tanpa nikah. Robert H. Lauer dan Jeantte C. Lauer dari Universitas San Diego, Amerika Srikat telah melakukan penelitian terhadap pasangan-pasangan hidup bersama tanpa nikah. Kesimpulan dari penelitiannya adalah sebagai berikut:

1. mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada kebersamaan;

2. mereka tidak memandang perkawinan sebagai suatu hal yang suci (sakral), andai katapun mereka melaksanakan perkawinan, hal itu dilakukan semata formalitas;

3. mereka mengutamakan faktor seksual dan percintaan dari pada faktor kejiwaan yang lebih mendasar, seperti kasih sayang, cinta dan mencintai, rasa aman dan perlindungan (scurity feeling);

4. tidak mempunyai rasa tanggung jawab sosial;

5. lebih mengutamakan individu (hak-hak asasi) dan hidup dalam masyarakat yang permisif;

6. pola hidup mereka lebih mengutamakan “rasionalisasi” alam pikir dan logika (yang semu), yang didasari dorongan-dorongan instinktuil (naluri dasar). Dengan demikian tingkat keberadaban manusia sebagai makhluk yang mulia sudah kembali menurun;

7. kalaupun mereka ingin mengakhiri masa hidup bersama tanpa nikah (sesudah berganti-ganti pasangan) dan hendak berumah tangga (nikah), biasanya dilakukan pada masa usia menengah dan menjelang usia senja.[37]

Pola hidup demikian tidak sejalan dengan aas-asas kesehatan jiwa, apalagi ditinjau dari segi agama, moral, dan etik. Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang mulia dan beradab, yang hidup dalam keteraturan, keseimbangan dalam hubungan dengan Tuhan, sesama dan lingkungannya. Namun, kemajuan yang dicapai manusia (modernisasi) mempunyai dampak pula, bukannya meninggikan harkat manusia bahkan sebaliknya, hal ini disebabkan karena manusia enggan dituntun agama, dan lebih menuruti dorongan-dorongan instinktuilnya.

V. Alternatif Solusi

Selain sebagai tantangan, globalisasi merupakan ancaman, sebagaimana yang diuraikan di atas. Untuk menghadapi ancaman diperlukan sebuah landasan yang kokoh. Landasan ini adalah ajaran agama. Dalam waktu bersamaan, untuk menghadapi tantangan, maka juga perlu landasan motivasi, inspirasi dan akidah. Di sini perlu memperkuat dan mempertegas landasan hidup agar mampu menghadapi ancaman dan terhindar darinya. Dalam waktu bersamaan, agar mampu menjawab tantangan. Untuk itu, beberapa hal di bawah ini perlu diperhatikan:

1. Menumbuhkan kesadaran kembali tentang tujuan hidup menurut Agama. Dalam pandangan Islam, manusia baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah Allah, tetap dalam konteks mengabdi kepada Allah dan berusaha untuk memperoleh ridha-Nya serta keselamatan dunia dan akhirat. Di sini iman dan taqwa menjadi sangat penting untuk dijadikan landasan hidup. Kita sadar bahwa kepuasan lahiriah yang pernah dinikmati oleh manusia, hanyalah sementara. Dengan kesadaran itu, maka kita akan sanggup mengatur diri kita. Dengan demikian, ketika kita akan terbawa arus globalisasi, kita akan ingat kesadaran keberagamaan kita yang mempunyai aturan main untuk di dunia dan akhirat;

2. Mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat di dunia, baik formalitas administratif sesuai ketentuan yang ada di dunia sendiri maupun hakiki yang mempunyai konsekuensi akhirat kelak. Ketika kita akan menceburkan diri dalam kehidupan globalisasi, maka kita juga selalu sadar akan tanggung jawab kita sendiri terhadap apa yang kita perbuat.[38]

Sedangkan untuk dapat berperan aktif dalam proses globalisasi dan proses kompetisi, salah satu hal yang harus dilakukan adalah kajian ulang terhadap pemaknaan ulang terhadap ajaran agama yang mencakup kajian manusia sebagai individu. Artinya bagaimana menjadikan Islam sebagai ruh bagi setiap individu yang memeluknya untuk dapat mampu bersaing menghadapi kompetisi globalisasi ini.[39]

Dalam kehidupam keluarga, Islam juga telah meletakkan dasar-dasar yang cukup kokoh dan tangguh untuk membangun sebuah keluarga yang tangguh dalam bingkai kehidupan sakinah. Ayat-ayat tentang keluarga mendapatkan perhatian khusus di dalam Al-Quran dan dibahas secara rinci.

Untuk menghadapi tantangan zaman dan arus globalisasi, apabila nilai-nilai agama yang terkandung di dalam teks-teks agama dijadikan dasar, maka niscaya kehidupan keluarga akan dapat bertahan. Selain itu yang harus dilakukan adalah mempertahankan prinsip-prinsip dan nilai moral yang ada dalam masyarakat. Apabila prinsip dan nilai ini hidup, maka perubahan apapun yang terjadi tidak akan mampu mengendalikan masyarakat, karena di dalam dirinya sudah tertanam prinsip dan nilai tadi.[40] Apalagi Islam yang nota bene kaya dengan nilai-nilai moral yang sangat tinggi, perubahan dan tantangan akan dapat diikuti tanpa keluar dari koridor dan prinsipnya.

Islam telah menempatkan keluarga pada posisi dan kedudukan yang sangat penting dan strategis dalam pembinaan pribadi dan masyarakat. Baik buruknya kepribadian seseorang sangat tergantung pada pembinaan dalam keluarga.[41] Pembinaan keluarga ditujukan untuk melahirkan jalinan cinta kasih (mawaddah war rahmah).[42] Jalinan cinta kasih atas dasar agama merupakan sumber utama kebahagiaan keluarga, sehingga memungkinkan setiap anggota keluarga mengembangkan kepribadiannya secara baik dan utuh. Karena itu, dalam pandangan ajaran Islam, kesamaan agama dan keyakinan suami istri merupakan hal yang mutlak.[43]

Keluarga dalam pandangan Islam bukanlah sekedar tempat berkumpulnya orang-orang yang terikat karena perkawinan maupun keturunan, akan tetapi mempunyai fungsi yang sedemikian luas. Oleh karena itu untuk mempertahankan ekisistensi kehidupan keluarga sakinah salah satu alternatif yang sangat mungkin adalah memperdalam dan meng-intensif-kan penanaman dan pengamalan nilai-nilai ajaran agama dalam setiap anggota keluarga dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Hal ini dilakukan dengan memperdalam pendidikan agama.

Pendidikan agama sesungguhnya adalah pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik. Pendidikan agama tidak benar jika dibatasi hanya kepada pengertian-pengertian yang konvensional dalam masyarakat. Meskipun pengertian pendidikan agama yang dikanal dalam masyarakat itu tidaklah seluruhnya salah –jelas sebagian besar adalah baik dan harus dipertahankan- namun tidak dapat dibantah lagi bahwa pengertian seperti ini harus disempurnakan.[44]

Kalau kita pahami bahwa agama akhirnya menuju kepada penyempurnaan berbagai keluhuran budi. Oleh karena itu peran orang tua dalam mendidik anak melalui pendidikan keagamaan yang benar adalah amat penting. Dan di sini yang ditekankan adalah pendidikan, bukan pengajaran. Sebagaian dari pendidikan itu memang dapat dilimpahkan kepada lembaga atau orang lain terutama hanyalah pengajaran agama, yang berupa latihan dan pelajaran membaca bacaan-bacaan keagamaan, termasuk membaca Al-Quran dan mengerjakan ritus-ritus.[45]

Pendidikan agama dalam rumah tangga tidak cukup hanya berupa pengajaran agama kepada anak tentang segi-segi ritual dan formal agama. Penagajaran ini, sebagaimana halnya yang ada di sekolah oleh guru agama, dalam rumah tangga pun dapat diperankan oleh orang lain, yaitu guru ngaji yang sekarang mulai populer dalam masyarakat kita. Meskipun guru ngaji dapat bertindak sebagai pendidik agama, namun peran mereka tidak akan dapat menggantikan peran orang tua secara sempurna atau sepenuhnya.

Alternatif lain yang dapat digunakan menjaga kelangsungan kehidupan keluarga sakinah adalah dengan mengadakan training-training kiat membangun keluarga sakinah. Hal ini sudah banyak diterapkan pada masyarakat perkotaan. Dengan diadakan training seperti ini diharapkan para anggota keluarga dapat membawa diri dan sekaligus menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman dan lingkungan sosialnya. Karena mau tidak mau institusi keluarga harus bergerak secara dinamis mengikuti irama perkembangan zaman dan kondisi sosio-kultural.

Alternatif solusi di atas sifatnya antisipatif. Jadi apabila dalam sebuah keluarga sudah terkena dampak globalisasi dan tidak dapat menyesuaikan diri sehingga menghilangkan keseimbangan dalam keluarga, maka alternatif lain yang mungkin dapat digunakan untuk menyelesaikannya adalah dengan terapi keluarga, baik terapi marital mauppun terapi parental. Terapi merupakan cara yang cukup signifikan untuk membantu keluarga dalam menyelesaikan problem-problem keluarga.[46] Dalam kerangka Islam, dengan munculnya istilah psikologi Islami, yang sudah berkiprah dalam bidang terapi dan konseling diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam keluarga.

VI. Penutup

Institusi keluarga merupakan fondasi bagi kehidupan masyarakat, oleh karena itu ia membutuhkan perhatian yang serius agar selalu eksis. Eksistensi keluarga sangat tergantung pada tingkat ketenangan dan kebahagiaan serta kesejahteraan anggotanya. Secara garis besar, untuk menjamin kebahagiaan atau ke-sakinahan keluarga harus terpnuhinya dua unsur pokok, yaitu materi dan imateri yaitu moral spiritual. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama dalam menjamin kelangsungan kebahagiaan oleh karena itu harus sama-sama dipenuhi demi terciptanya keluarga sakinah atau sejahtera.

Era globalisasi yang datang seiring dengan bergulirnya waktu membawa dampak yang sangat signifikan dalam kehidupan keluarga, baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif seperti mudahnya mendapatkan informasi baik tentang politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan bahkan sumber tentang agama serta mudahnya akses mobilitas. Dampak negatif globalisasi antara lain pudarnya nilai-nilai kebudyaan lokal, dekadensi moral, perubahan gaya hidup (life style) yang mempengaruhi perilaku individu-individu anggota keluarga dan bahkan menghilangkan kesakralan relasi antarsesama anggota keluarga. Struktur keluarga extended family cenderung berubah ke arah nuclear family, bahkan sampai single parent family; hubungan kekeluargaan (hubungan emosional ayah-ibu-anak) yang semula erat dan ketat (family right), cenderung menjadi longgar (family loose); nilai-nilai yang mendasar agama cenderung berubah ke arah sekuler dan serba membolehkan (premisive society); lembaga perkawinan (keluarga) mulai diragukan dan masyarakat cenderung memilih hidup bersama tanpa nikah; ambisi karir dan materi sedemikian rupa sehingga dapat mengganggu interpersonal, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.

Hampir semua pembahasan tenang keluarga sakinah, baik dari konsep Barat, Al-Quran dan al-sunnah sepakat memasukan unsur morla spiritual sebagai pilar utama untuk mempertahankan keluarga sakinah. Begitu juga, untuk mempertahankan eksistensi keluarga sakinah di era global ini, perlunya penanaman nilai-nilai moral spiritual agama kepada setip anggota keluarga. Apabila nilai-nilai agama yang terkandung di dalam teks-teks agama dijadikan dasar pendidikan keluarga, maka niscaya kehidupan keluarga akan dapat bertahan. Selain itu yang harus dilakukan adalah mempertahankan prinsip-prinsip dan nilai moral yang ada dalam masyarakat. Karena niali-nilai lokal ini sebagai identitas kearifan lokal (local wisdom) yang secara natural dapat diterapkan sesuai dengan kondisi sosio-kultural tanpa bertabrakan atau bertentangan dengan norma agama dan tidak memaksa masyarakat untuk merubah gaya hidupnya secara radikal.


DAFTAR PUSTAKA

v     Adian Husaini. 2005.Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Innsani Press.

v     Ahmad Qodi Azizy. 2004. Melawan Globalisasi: Reinterpretasi Ajaran Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

v     Dadang Hawari. 1997. Al-Quran: Ilmu Kesehatan Jiwa dan Jiwa. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa.

v     Elisabeth Guthrie, M. D. dan Kathy Mathews. 2003. Anak Sempurna atau Anak Bahagia: Dilema Orangtua Modern, alih bahasa Ida Sitompul. Bandung: Mizan.

v     Ensiklopedia Ilmu-ilmu Sosial. 2000. artikel, “Grajam Allan”, oleh Adam Kuper & Jessica Kuper, alih bahasa Haris Munandar. Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada.

v     Hammudah Abd al-‘Athi. 1984. The Family Structure in Islam (Keluarga Muslim), alih bahasa Anshari Thayyib. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

v     Hasan Habib. 2003. Peta Politik Internasional dan Pengaruhnya terhadap Konstalasi Perpolitikan Indonesia”, Paper disampaikan pada Munas Alim Ulama DPP PKB, 28 Mei 2003.

v     Jalaluddin Rahmat. 1998. Pengantar dalam: Murtadha Mutahari, Perspektif al-Quran tentang Manusia dan Agama. Bandung: Mizan.

v     Jam’iah Al-Islah Al-Ijtima’i. 2002. Globalisasi dalam Timbangan Islam. Solo: Penerbit Era Intermedia.

v     JJ. Conger. 1973. Adolescence and Youth. London: Harper and Row.

v     John Baylis dan Steve Smith (editor). 2001. The Globalization of World Politics. New York: Oxford University Press.

v     Jurnal Al-Insan No. 3 vol. 2, 2006. Jakarta: Lembaga Kajian dan Pengembangan Al-Insan.

v     Jurnal al-Jami’ah al-Islamiyah, Vol 1, No. 2 April-Juni 1994. London: International Collegs of Islamic Science.

v     Jurnal Islamiyah Tahun I No. 4/Januari-Maret 2005. Jakarta: Institute for Study of Islamic Thought and Civilization [INSIST] dan Khoirul Bayan.

v     Jurnal Mukaddimah. No. 8 Tahun. V 1999. Yogyakarta: Kopertais, 1999).

v     Kamrani Buseri. 1990. Pendidikan Keluarga Dalam Islam. Yogyakarta: Bina Usaha.

v     Louis P. Pojman. 2003. Global Political Philosophy. New York: McGraw Hill.

v     Nurcholish Madjid. 2004. Masyarakat Religius: Membumikan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarkat. Jakarta: Paramadian.

v     Philip Barker. 1986. Basic Family Therapy. London: Collins Professional and Technical Books.

v     Quraish Shihab. 2000. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan.

v     R. H. Tawney, dalam Lynn H. Miller. 2006. Global Order: Values and Power in International Politics, (Agenda Politik internasional) alih bahasa, Daryanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

v     Said Husin al-Munawwar, et.al. 2003 Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani. Jakarta: Pena Madani.

v     Yandianto, 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit M2S.

v     ZA. Maulani. 2002. “Dakwah dalam Era Globalisasi” Makalah disampaikan dalam ASEAN Yuoth Camp, Jakarta, 1 Oktober 2002.

Translated by; H. Nur Khamid, SHI

from: Al-Mawarid Edisi XVIII Tahun 2008

Islamic Journal for Family Development Program


[1] Kamrani Buseri. 1990. Pendidikan Keluarga Dalam Islam. Yogyakarta: Bina Usaha. hal. 16-17

[2] Said Husin al-Munawwar. 2003. et.al, Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani. Jakarta: Pena Madani. hal 62.

[3] Quraish Shihab. 2000. Wawasan Al-Quran. Bandung: Mizan. hal. 192.

[4] Said Husin al-Munawwar. et.al. Agenda …, hal 62

[5] Miftah Faridl. 2006. “Merajut Benang Kaluarga Sakinah” dalam jurnal Al-Insan No. 3 vol. 2, 2006 (Jakarta: Lembaga Kajian dan Pengembangan Al-Insan). hal. 75

[6] Dadang Hawari. 1997. Al-Quran: Ilmu Kesehatan Jiwa dan Jiwa. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa. hal. 237-240.

[7] Mahabbah adalah sejenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan ‘menggemesi”. (Said Husin al-Munawwar. et.al. Agenda …, hal. 63).

[8] Mawaddah adalah jenis yang lebih melihat kualitas pribadi pasangan. (Said Husin al-Munawwar. et.al. Agenda …, hal. 63)

[9] Rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap memberi perlindungan kepada yang dicintai. (Said Agil Husin al-Munawwar. et.al. Agenda …, hal. 63).

[10] Said Husin al-Munawwar. et.al. Agenda …, hal. 63

[11] http://www.damandiri.or.id/detail.php?id=344 (diakses 22/06/2007)

[12] John Baylis dan Steve Smith (editor). 2001. The Globalization of World Politics. New York: Oxford University Press. hal 14.

[13] Yandianto. 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit M2S. hal. 148.

[14] Jam’iah Al-Islah Al-Ijtima’i. 2002. Globalisasi dalam Timbangan Islam. Solo: Penerbit Era Intermedia. hal. 13.

[15] Amer Al-Roubaie. 2005. “Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam” dalam jurnal Islamiyah Tahun I No. 4/Januari-Maret 2005. Jakarta: Institute for Study of Islamic Thought and Civilization [INSIST] dan Khoirul Bayan. hal. 11.

[16] Louis P. Pojman. 2003. Global Political Philosophy. New York: McGraw Hill. hal. 198.

[17] Ahmad Qodi Azizy. 2004. Melawan Globalisasi: Reinterpretasi Ajaran Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal. 19.

[18] M. Atho Mudzhar. 1999. “Masyarakat Indonesia Baru dalam Perspektif Global” dalam jurnal Mukaddimah, No. 8 Tahun. V 1999. Yogyakarta: Kopertais. hal. 43.

[19] M. ATho Mudzhar. Masyarakat …, hal 43

[20] Giddens. 1999. sebagaimana dikutip oleh Amer al-Roubaie, Ibid, hal. 12

[21] Adian Husaini. 2005. Wajah Peradaban Barat: dari Hegemmoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta: Gema Innsani Press. hal. 20.

[22] Jam’iah, hal. 28

[23] ZA. Maulani. 2002. “Dakwah dalam Era Globalisasi” Makalah disampaikan dalam ASEAN Yuoth Camp. Jakarta, 1 Oktober 2002.

[24] Hasan Habib. 2003. Peta Politik Internasional dan Pengaruhnya terhadap Konstalasi Perpolitikan Indonesia”, Paper disampaikan pada Munas Alim Ulama DPP PKB, 28 Mei 2003

[25] Jam’iah Al-Islah Al-Ijtima’i. 2002. Globalisasi Dalam Timbangan Islam. Solo: Penerbit Era Intermedia. hal. 15.

[26] Said Agil Husin al-Munawwar. et.al. Agenda …, hal. 65-66.

[27] Muhammad Bahrul Ulum. 1994. “Masyakil al-Usrah al-Muslimah fi al-Gharb” dalam jurnal al-Jami’ah al-Islamiyah, Vol 1, No. 2 April-Juni 1994. London: International Collegs of Islamic Science. hal. 119.

[28] Nobutaka,”Globalization’s Challenge to Indiegenous Culture, in Institute for Japanes Culture and Classic Globalization and Indegenous Culture, sebagaimana dikutip oleh Amer al-Raoubaie, Globalisasi … hal. 15.

[29] JJ. Conger. 1973. Adolescence and Youth. London: Harper and Row. hal. 593

[30] Maulana Wahiduddin. 2006. sebagaimana dikutip oleh Elisabeth Diana Dewi, “Profil Keluarga di Barat” dalam Jurnal Al-Insan, No. 3, Vol. 2 tahun 2006. Jakarta: Lembaga Kajian dan Pengembangan al-Insan. hal. 12

[31] Didin Hafiduddin.”Keunggulan Keluarga Islami” dalam jurnal al-Insan …, hal. 43.

[32] Dadang Hawari,”Al-Quran …, hal. 231.

[33] Hammudah Abd al-‘Athi, 1984. “The Family Structure in Islam” (Keluarga Muslim), Alih bahasa Anshari Thayyib. Surabaya: PT. Bina Ilmu. hal. 63

[34] Ensiklopedia Ilmu-ilmu Sosial. 2000. artikel, “Grajam Allan”, oleh Adam Kuper & Jessica Kuper, alih bahasa haris Munandar. Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada. hal. 38-39.

[35] Jalaluddin Rahmat. 1998. Pengantar dalam Murtadha Mutahari, Perspektif al-Quran tentang Manusia dan Agama. Bandung: Mizan, 1998. hal. 39.

[36] Elisabeth Guthrie, M. D. dan Kathy Mathews. 2003. Anak Sempurna atau Anak Bahagia: Dilema Orangtua Modern. alih bahasa Ida Sitompul. Bandung: Mizan. hal. 115.

[37] Dadang Hawari. Al-Quran …, hal. 223

[38] Qodri Azizy. Melawan …, hal. 32-33.

[39] Qodri Azizy. Melawan …, hal. 34

[40] Lihat R. H. Tawney, dalam Lynn H. Miller. 2006. Global Order: Values and Power in International Politics, (Agenda Politik Internasional) alih bahasa Daryanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal. 155.

[41] Surat al-Tahrim ayat 6: “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin. Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

[42] Surat al-Rum ayat 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

[43] Surat al-Baqarah ayat 221: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

[44] Nurcholish Madjid. 2004. Masyarakat Religius: Membumikan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarkat. Jakarta: Paramadian. hal. 93.

[45] Nurcholish Madjid. Masyarakat …, hal. 94-95

[46] Philip Barker. 1986. Basic Family Therapy. London: Collins Professional and Technical Books. hal. 226-227.

Leave a Comment more...

MEMBANGUN TUJUAN BERUMAH TANGGA

Posted by kua kragan in Mar 21, 2011, under Artikel, Pernikahan dan Keluarga


$tBur Ínɋ»yd äo4qu‹ysø9$# !$u‹÷R‘$!$# žwÎ) ×qôgs9 Ò=Ïès9ur 4 žcÎ)ur u‘#¤$!$# notÅzFy$# }‘Îgs9 ãb#uqu‹ptø:$# 4 öqs9 (#qçR$Ÿ2 šcqßJn=ôètƒ ÇÏÍÈ

”Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesunguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” (QS: al-Ankabut : 64)

Seakan telah menjadi bagian yang sangat standar dari skenario kehidupan, bahwa hampir sepanjang usia dunia hingga saat ini, betapa banyak orang yang selama hidupnya disibukkan oleh kerja keras, peras keringat banting tulang

dalam mencari penghidupan. Apa yang telah diperolehnya dikumpul-kumpulkan dan ditimbun dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya. Ada juga orang yang dalam hidupnya teramat merindukan penghargaan dan penghormatan, sehingga hari-harinya disibukan dengan memperindah rumah, mematut-matut diri, membeli aneka asesori, dan sebagainya, yang semua itu dilakukan semata-mata ingin dihargai orang.

Inilah fenomena kehidupan yang menunjukan betapa manusia dalam kehidupannya berpeluang dekat dengan hawa nafsu yang merugikan. Sekiranya tujuan sebuah rumah tangga hanya duniawi belaka, maka penghuninya akan merasakan letih lahir batin karena energinya lebih banyak terkuras oleh pemikiran tentang taktik dan siasat serta nafsu menggebu untuk mengejar hal duniawi itu terus menerus siang malam. Padahal, apa yang didapatkannya tak lebih dari apa yang telah ditetapkan ALLAH untuknya. Walhasil, hari-harinya akan terjauhkan dari ketenteraman batin dan keindahan hidup yang hakiki karena tak ubahnya seorang budak. Ya, budak dunia !

Allah Sebagai Tujuan

Sebaliknya rumah tangga yang tujuannya hanya ALLAH, ketika mendapatkan karunia duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur kehadirat-Nya. Sama sekali tidak pernah kecewa dengan seberapa pun yang ALLAH berikan. Pendek kata adanya hal duniawi di sisinya tidak membuatnya sombong, tiadanya pun tak membuatnya menderita dan sengsara, apalagi jadi merasa rendah diri karenanya. Lebih-lebih lagi dalam hal ikhtiar guna mendapatkan karunia duniawi tersebut, baginya yang penting bukan perkara dapat atau tidak dapat, melainkan bagaimana agar dalam rangka menyongsongnya hati tetap terpelihara, sehingga ALLAH tetap ridha. Jumlah yang didapat tidaklah menjadi masalah, namun kejujuran dalam menyongsongnya inilah yang senantiasa diperhatikan sungguh-sungguh. Karena, nilainya bukanlah dari karunia duniawi yang diperolehnya, melainkan dari sikap terhadapnya.

Oleh karena itu, rumah tangga yang tujuannya ALLAH Azza wa Jalla sama sekali tidak akan silau dan terpedaya oleh ada atau tidak adanya segala perkara duniawi ini. Karena, yang penting baginya, ketika aneka asesoris duniawi itu tergenggam di tangan, tetap membuat ALLAH suka. Sebaliknya, ketika semua itu tidak tersandang, ALLAH tetap ridha. Demikian pun gerak ikhtiarnya akan membuahkan cinta dari-Nya. Merekalah para penghuni rumah tanggga yang memahami hakikat kehidupan dunia ini.

Dunia, bagaimana pun hanyalah senda gurau dan permainan belaka, sehingga yang mereka cari sesungguhnya bukan lagi dunianya itu sendiri, melainkan Dzat yang Maha memiliki dunia. Bila orang-orang pencinta dunia bekerja sekeras-kerasanya untuk mencari uang, maka mereka bekerja demi Dzat yang Maha membagikan uang.

Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama manusia, maka mereka pun akan sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari Dia yang Maha menggerakan siapapun yang menghargai dan memuji. Perbedaan itu, begitu jelas dan tegas bagaikan siang dan malam. Bagi rumah tangga yang tujuannya hanya asesoris duniawi pastilah aneka kesibukannya itu semata-mata sebatas ingin mendapatkan yang satu itu saja, sedangkan bagi rumah tangga yang hanya ALLAH semata menjadi tujuan dan tumpuan harapannnya, maka otomatis yang dicarinya pun langsung tembus kepada Dzat Maha pemilik dan penguasa segala-galanya.

Maka upayakan rumah tangga kita tidak menjadi pencinta dunia semata. Karena, betapa banyak rumah tangga yang bergelimang harta, tetapi tidak pernah berbahagia. Betapa tak sedikit rumah tangga yang tinggi pangkat, gelar dan jabatannya, tetapi tidak pernah menemukan kesejukan hati. Memang, kebahagian yang hakiki itu hanyalah bagi orang-orang yang disukai dan diridlai-Nya. Allah SWT berfirman:

(#þqßJn=ôã$# $yJ¯Rr& äo4qu‹ysø9$# $u‹÷R‘‰9$# Ò=Ïès9 ×qølm;ur ×puZƒÎ—ur 7äz$xÿs?ur ö ֍èO%s3s?ur Nä3oY÷t/ ’Îû ÉAºuqøBF{$# ω»s9÷rF{$#ur ( È@sVyJx. B]ø‹xî |=yfôãr& u‘$¤ÿä3ø9$# ¼çmè?$t7tR §NèO ßk‹Íku‰ çm1uŽtIsù #vxÿóÁãB §NèO ãbqä3tƒ $VJ»sÜãm ( ’Îûur ÍotÅzFy$# Ò>#x‹tã ӉƒÏ‰x© ×otÏÿøótBur z`ÏiB «!$# ×bºuqôÊ͑ur 4 $tBur äo4qu‹ysø9$# !$u‹÷R‘$!$# žwÎ) ßì»tFtB ͑rãäóø9$# ÇËÉÈ

”Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Q.S.Al-Hadid ayat 20].

Muhasabah

Berumah tangga bukanlah suatu hal yang mudah seperti halnya membalikkan kedua telapak tangan. Sejak awal, Allah Swt. memperingatkan kepada setiap orang beriman agar hati-hati dalam hal tersebut, sebagaimana firman-Nya:

$pkš‰r¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä žcÎ) ô`ÏB öNä3Å_ºurø—r& öNà2ω»s9÷rr&ur #xr߉tã öNà6©9 öNèdrâ‘x‹÷n$$sù 4 bÎ)ur (#qàÿ÷ès? (#qßsxÿóÁs?ur (#rãÏÿøós?ur cÎ*sù ©!$# ֑qàÿxî íO‹Ïm§‘ ÇÊÍÈ

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagim. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taghabun [64]:14).

Ayat di atas menjelaskan, bahwa bisa jadi pasangan yang telah kita pilih untuk mendampingi hidup kita dan anak-anak yang dilahirkannya menjadi musuh bagi diri kita. Seorang suami yang seharusnya menjadi seorang pemimpin di keluarga malah menjadi koruptor karena bujukan istrinya yang terus menggerutu karena diperbudak segala macam keinginan. Ayah dan ibu terhancurkan kehormatan dan harga diri keluarganya karena perilaku dan akhlaq buruk yang diperlihatkan anak-anak yang dilahirkannya. Untuk itu, hal penting yang harus selalu kita lakukan adalah memohon kepada Allah semoga Ia menolong dan mengkaruniakan kita pendamping terbaik dan anak-anak yang shalih dan shalihah. Al Qur’an menuntun doa yang begitu indah tentang hal ini sbb:

tûïÏ%©!$#ur šcqä9qà)tƒ $oY­/u‘ ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurø—r& $oYÏG»­ƒÍh‘èŒur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur šúüÉ)­FßJù=Ï9 $·B$tBÎ) ÇÐÍÈ

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan [25]:74).

Pasangan (istri) seperti apakah yang qurrota a’yun itu? Tentu saja istri yang menyejukan ketika dipandang, dapat menjadi tauladan bagi siapapun. Ia juga tidak akan pernah memperlihatkan wajah yang muram durja, berbicara ketus dan rona wajah yang menyeramkan. Akhlaknya akan terlihat jauh lebih indah dibanding kecantikan wajah dan tubuhnya. Akhlaqnya akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari, baik terhadap suami maupun orang lain di luar keluarganya (tetangga), seperti senantiasa hormat meski suaminya berumur sama dengannya, atau senantiasa menghargai siapapun yang ia temui termasuk anak kecil sekalipun. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa menyejukan, bersih dan tidak pernah ada yang melukai.

Oleh karena itu, meski ia terus beranjak tua dan berubah karena perjuangannya dalam melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, namun akan tetap kelihatan cerah dan bersinar. Hal itu tiada lain karena cerminan dari suasana hati yang senantiasa bersih dan bening. Di samping itu, ia juga akan senantiasa bersyukur, menghadapi setiap kejadian dengan sabar dan yakin akan pelajaran dari Allah. Istri seperti ini tidak pernah meminta hal yang di luar kemampuan suaminya. Ia juga akan senantiasa memohon izin kepada suami untuk melakukan apapun yang akan ia kerjakan.

Bila paparan di atas bicara tentang istri yang sholihah, yang menjadi perhiasan terindah bagi para suami, bagaimana pula gambaran suami sholih yang menjadi pemimpin terbaik bagi para istri? Bagi suami yang sholeh, istri akan senantiasa menjadi orang spesial dalam benak dan kehidupannya. Suami seperti ini akan senantiasa bersih ketika mau berhadapan dengan istri dan memanggil dengan panggilan terbaik.

Jika kondisi istri berubah secara fisik, karena perjuangannya mengurus rumah tangga, ia akan menghiburnya dengan keuntungan-keuntungan di akhirat. Ia juga akan menutup kejelekan yang dimiliki  istri serta merasa terus tertuntut untuk melakukan kewajiban yang benar.Tingginya derajat suami ditentukan oleh perjuangannya menjadi pemimpin rumah tangga, sehingga ia akan terus menuntut dirinya untuk senantiasa menjadi tauladan yang terbaik bagi keluarga yang dipimpinnya. Seorang suami pilihan Allah tidak pernah mau jadi beban bagi istrinya. Ia akan senantiasa memuji dan membuat istri senang, menjadikan kekurangan istrinya menjadi ladang amal untuk berlapang hati dan membantunya selalu berjuang untuk memperbaiki diri.

Ia juga akan selalu berlapang dada bertukar pikiran membahas masalah-masalah yang ada di keluarganya dengan adil. Pada malam hari, ia akan mengajak istrinya untuk bermunajat menghadap Allah bersama-sama, meminta kepada Allah sebuah keluarga yang mendapatkan perlindungan-Nya pada saat tiada lagi perlindungan lain selain hanya dari-Nya. Memohon dikaruniakannya sebuah yang keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, bahagia di dunia dan akhirat.

Waallahu a’lam bi alshawab

Ali Muhyidin, M. Ag, Staf Seksi Urais Kantor Kementerian Agama Kab. Rembang

Leave a Comment more...